Tips Bekerja dengan Vaksin Asli

Adanya laporan mengenai vaksin palsu berpotensi menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat maupun tenaga kesehatan. Dokter spesialis anak sebagai edukator diharapkan mampu memberi jawaban berbasis ilmiah serta menenangkan masyarakat agar tidak terjadi kepanikan. Saat ini, detil hasil penyelidikan seperti distribusi vaksin, data pembeli, ciri vaksin, kandungan vaksin, dan lain sebagainya belum diketahui dengan pasti.

Oleh karena belum ada hasil pemeriksaan  laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai kandungan vaksin tersebut, maka Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang diperkirakan akan terjadi belum dapat ditentukan. Sambil menunggu pengumuman resmi hasil investigasi BPOM, Kementerian Kesehatan, Biofarma, dan instansi terkait, berikut ini beberapa anjuran bagi anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):

  1. Sampaikan bahwa masyarakat tidak perlu gelisah. Sampai saat ini belum ada laporan KIPI akibat vaksin palsu. Lanjutkan imunisasi sesuai jadwal, termasuk vaksinasi booster/penguat. Meski pernah mendapat vaksin yang tidak berkhasiat, namun bila diberikan vaksin lagi, maka tubuh akan segera membuat kekebalan lagi. Dengan demikian istilah vaksin palsu sebaiknya diganti dengan vaksin yang tidak berkhasiat untuk menghindari keresahan masyarakat.
  2. Pastikan bahwa semua sarana kesehatan tempat sejawat anggota IDAI bekerja sudah memeriksa ulang sumber pengadaan vaksin. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanyakan di mana tempat membeli vaksin yang disediakan. Apabila bukan dari distributor resmi atau sumbernya meragukan maka tidak boleh diberikan kepada pasien. Segera kirim vaksin yang meragukan tersebut ke Dinas Kesehatan setempat untuk ditindaklanjuti, kemudian lanjutkan imunisasi sesuai jadwal dengan vaksin dari Dinas Kesehatan atau distributor resmi.
  3. Sampaikan kepada orangtua bahwa apabila ada timbul gejala penyakit atau reaksi yang tidak diinginkan setelah pemberian imunisasi, mohon segera kembali ke tempat dilakukan vaksinasi, agar anak dapat dipantau dan kejadian tersebut dilaporkan ke Dinas Kesehatan dan dikaji oleh Pokja KIPI. Kejadian yang dilaporkan akan dianalisis apakah ada hubungan dengan vaksin atau tidak.
  4. Melakukan sendiri pemeriksaan terhadap sediaan vaksin sebelum diberikan kepada pasien. Periksa keutuhan vial, etiket vaksin, tanggal kadaluarsa vaksin, heat marker yaitu Vaccine Vial Monitor (VVM), lakukan uji kocok lalu perhatikan tampilan fisik vaksin (warna, kejernihan, endapan).
  5. Selalu lakukan pencatatan nama dagang vaksin, produsen, nomor lot/seri vaksin, tanggal kadaluarsa, tanggal penyuntikan, dan bagian tubuh yang disuntik.
  6. Biasakan mencatat suhu lemari pendingin tempat penyimpanan vaksin di tempat bekerja masing-masing secara berkala.
  7. Selalu buang vial bekas vaksin ke tempat khusus dan kemudian dimusnahkan agar tidak dapat didaur ulang.
  8. Tips tanya jawab dengan orangtua maupun media:
  • Sikap tubuh terbuka (postur tegak namun rileks, tersenyum dan kontak mata dengan penanya), buat penanya nyaman.
  • Tetap pada area kapabilitas dokter spesialis anak, yaitu pengetahuan dasar mengenai imunisasi, reaksi simpang, dampak apabila cakupan rendah atau anak tidak mendapat imunisasi, jadwal dan catch up imunisasi.
  • Tetap pada pesan utama – jangan keluar dari pesan utama yang disampaikan. Pastikan pesan utama pembicaraan tersampaikan dan utarakan hal tersebut terlebih dahulu. Ulangi pesan utama beberapa kali, yaitu di awal pembicaraan, tengah, dan akhir pembicaraan sebagai kesimpulan, agar berkesan. Pesan utama dalam hal ini adalah bahwa masyarakat tidak perlu gelisah dan lanjutkan imunisasi sesuai jadwal.
  • Apabila ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab, sampaikan bahwa pertanyaan tersebut akan disampaikan kepada institusi yang berkompeten untuk menjawab. Miliki kontrol atas pembicaraan dan ceritakan hal-hal yang diketahui dengan pasti. Jika diperlukan, menolak secara tegas dan secepatnya jika memungkinkan. Tanyakan maksud pertanyaan kepada penanya jika tidak mengerti pertanyaan yang diajukan.
  • Beri jeda dan berikan waktu kepada penanya untuk menulis informasi yang Anda berikan, sebelum memulai poin pembicaraan berikutnya. Hal ini membantu mencegah adanya kesalahan.
  1. Yang sebaiknya dihindari:
  • Berspekulasi. Hindari menceritakan hal-hal yang kemungkinannya kecil untuk terjadi namun sensasional dan berkesan bagi pendengar. Hal-hal sensasional sangat menarik perhatian dan cenderung akan disebarluaskan. Contoh: kandungan gentamisin dalam vaksin palsu dapat menimbulkan reaksi alergi, kerusakan ginjal, anafilaksis sampai meninggal, walaupun sangat jarang dan tergantung kepekaan, dosis, dan lama pemberian. Bagian kalimat sampai meninggal karena terdengar sensasional dapat cepat menyebar sedangkan keterangan sangat jarang, tergantung kepekaan, dosis, dan lama pemberian tidak dipedulikan.
  • Berbicara mewakili pihak lain maupun industri lainnya.
  • Menggunakan istilah yang terlalu teknis dan jargon. Istilah atau singkatan yang umum digunakan di kalangan medis (KIPI, vial, catch up, dan lain-lain) perlu dijelaskan saat digunakan dalam pembicaraan.
  • Mengatakan “off the record”. Dokter spesialis anak yang menjadi narasumber pemberitaan mengenai vaksin palsu tidak memenuhi kriteria off the record, sehingga informasi yang disampaikan tetap dapat muncul dalam pemberitaan.
  • Menggunakan ungkapan “no comment”. Apabila tidak tahu jawaban sebuah pertanyaan, sampaikan yang sebenarnya sambil menawarkan follow up apabila berkenan.
  • Berasumsi orangtua atau rekan media mengetahui subyek pembicaraan setara dokter. Tidak ada salahnya menanyakan kembali sejauh mana mereka mengerti penjelasan sejawat.
  • Berasumsi bahwa orangtua atau rekan media tidak akan menggali lebih jauh setelah mendengarkan penjelasan sejawat. 

 

Jakarta, 27 Juni 2016

 

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia