BAYI SAYA KUNING, BERAT BADANNYA TURUN. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN?


Kita sudah mengetahui menyusui eksklusif adalah terbaik untuk bayi. Menyusui mempunyai keuntungan jangka pendek dan jangka panjang bagi bayi dan ibu . AAP (American Academy of Pediatric) dan WHO (World Health Organization) juga telah merekomendasikan menyusui selama 1-2 tahun.  Tetapi mengapa penggunaan susu formula di awal kelahiran masih cukup sering?.

Masalah pertama yang sering muncul pada awal kelahiran adalah kekhawatiran ibu akan produksi ASI nya yang sedikit dan bening. Cairan ini disebut kolostrum dan produksi  hari pertama hanya 1-5 ml. Bayi rewel dan ibu makin cemas. Kecemasan ibu mengakibatkan hormon kortisol meningkat dan menekan hormon oksitosin, hormon yang bekerja mengeluarkan ASI dari payudara ibu. Jadi ibu yang cemas menghambat pengeluaran ASI.

(Baca juga : Masalah Ibu Bekerja: ASI Atau Susu Formula?)

Masalah yang muncul kemudian  dalam 1-2 minggu pertama adalah bayi terlihat kuning, berat badan turun dan gula darah rendah. Bayi kuning merupakan kondisi umum yang terjadi pada bayi usia 2-3 hari. Dari 100 bayi sehat, 60 bayi mengalami kuning. Kuning terjadi karena bilirubin dalam darah meningkat. Ada beberapa kondisi yang membuat bayi terlihat lebih kuning (bilirubin sangat tinggi atau hiperbilirubin).  Bayi ini yang perlu penanganan khusus seperti terapi sinar biru (blue light  therapy).

Pada kondisi seperti diatas, jenis makanan apa dan bagaimana cara memberikan makan pada bayi baru lahir ini sehingga bayi tetap mendapat ASI dan tetap sehat ? Bayi langsung menyusu pada ibu adalah cara ideal bayi mendapat makanannya.  Bayi menyusu sesering mungkin (8-12 kali/ hari). Jika hal ini tidak dapat dilakukan, pemberian suplementasi merupakan alternatif. Suplementasi adalah makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI. Sesuai dengan tingkat hirarki, pilihan suplemen adalah ASI perah ibunya kemudian ASI donor yang sudah diskrining dan sudah dipasteurisasi dan terakhir susu formula.

Suplementasi (situasi dimana menyusui tidak memungkinkan) diberikan pada keadaan bayi dan ibu terpisah (ibu dirawat di RS),  bayi dengan kelainan metabolik (galaktosemia), bayi yang tidak dapat menyusu langsung ke payudara (bayi sakit atau terdapat  kelainan  bawaan) dan bayi dari ibu yang mendapat obat-obatan yang berbahaya jika menyusui.

(Baca juga : Makanan Pendamping ASI (MPASI))

Suplementasi dipertimbangkan pemberiannya pada keadaan bayi dengan gula darah rendah tanpa gejala, dehidrasi, berat badan bayi turun 8-10% disertai produksi ASI terlambat, gerakan usus yang lambat  (feses bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5), hiperbilirubin (bayi sangat  kuning) atau pada keadaan bayi perlu zat mikronutrien dalam makanannya. Sedangkan indikasi dari ibu jika ada kelainan payudara atau  riwayat operasi pada payudara yang berakibat buruknya produksi ASI atau rasa nyeri pada payudara saat menyusui yang tidak dapat berkurang dengan intervensi.

Cara pemberian suplemen bisa dengan beberapa metode. Bisa dengan cangkir, sendok, pipet, jari, syringe, botol atau yang direkomendasikan dengan menggunakan selang makanan (feeding tube). Mengapa demikian? Karena bayi  tetap dapat menyusu ke payudara ibu dan tetap memberikan rangsangan ke payudara sehingga proses skin to skin tetap ada dan hormon prolaktin serta oksitosin tetap produksi.

Yang jelas, sebelum menentukan perlu atau tidaknya  pemberian suplementasi, mari kita evaluasi bagaimana proses menyusui. Tentunya untuk masalah seperti ini, konsultasilah dengan tenaga kesehatan yang paling kompeten, yaitu dokter anak anda.

Penulis : Dr. Eveline P.N. Sp.A

Reviewer : Dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A, IBCLC (Ketua Satuan Tugas ASI)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Artikel lainnya :

Menyusui: Kunci Mother-Infant Bonding 

Bingung Puting

Penyimpanan ASI Perah


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.