Persepsi yang Salah Tentang Imunisasi (Bagian Akhir)


miskonsepsi-3-405x305

Penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi telah tidak ada di negara kita, sehingga anak tidak perlu imunisasi

 

Angka kejadian penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi memang telah menurun drastis, namun kejadian penyakit tersebut ada yang masih cukup tinggi di negara lain. Kuman penyakit tersebut dapat dibawa masuk secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah.

Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 yang lalu. Sejak tahun 1995, tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Biofarma di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak itu tidak pernah mendapat imunisasi polio sebelumnya. Virus polio liar tersebut selanjutnya menyebar dan menyebabkan wabah yang merebak ke 10 propinsi dan 48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDPV (vaccine derived polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus, diketahui bahwa virus berasal dari Afrika Barat. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria Sudan dan sama seperti virus yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman.

Dari pengalaman tersebut, terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan. Alasan pertama adalah anak harus dilindungi dari penyakit. Walaupun risiko terkena penyakit adalah kecil, bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap masih dapat terinfeksi. Alasan kedua adalah imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tidak dapat diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak memberi respon terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit. Namun anak tersebut dapat perlindungan dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit kepadanya.

 

klik di sini untuk melihat bagian 1

klik di sini untuk melihat bagian 2

 

Penulis:

Hartono Gunardi (Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia)

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.