Keracunan Hidrokarbon


Keracunan masih sering dialami anak. Salah satunya adalah keracunan hidrokarbon. Pada anak kecil, keracunan hidrokarbon biasanya terjadi sebagai kejadian yang tidak disengaja atau akibat rasa ingin tahu. Menelan hidrokarbon dalam jumlah besar tidak umum terjadi karena rasanya tidak enak. Kejadian toksisitas pada remaja terjadi biasanya akibat perbuatan disengaja, seperti percobaan bunuh diri.

Hidrokarbon adalah bahan kimia yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah senyawa organik yang hanya terdiri atas hidrogen dan karbon, berbentuk cair dalam suhu ruangan. Senyawa hidrokarbon terdapat pada lem, pembersih cat kuku, pengencer cat, pelitur, kloroform, kamper, bensin, minyak tanah, solar, dan oli. Bahan yang sering tertelan anak adalah pengencer cat, bahan bakar kendaraan, nafta/kamper, atau spiritus.

Keracunan hidrokarbon dapat terjadi akibat paparan langsung pada kulit, terhirup, atau tertelan. Hidrokarbon yang tertelan bisa masuk ke saluran napas dan mengiritasi paru, menyebabkan pneumonitis akibat bahan kimia (pneumonia aspirasi). Aspirasi ke paru biasanya terjadi pada hidrokarbon cair dan mudah mengalir, seperti pelitur dan bensin. Keracunan hidrokarbon yang berat juga dapat memengaruhi otak, jantung, sumsum tulang, dan ginjal.

Gejala

Korban biasanya batuk dan tersedak setelah menelan atau menghirup hidrokarbon. Rasa seperti terbakar pada perut dan bisa terjadi muntah. Jika paru terkena, penderita akan batuk terus. Napas menjadi cepat dan kulit berwarna kebiruan (sianosis) akibat kadar oksigen dalam darah menurun dan karbon dioksida meningkat. Pada anak kecil bisa tampak sianosis, menahan napas, dan batuk terus-menerus. Kadang-kadang kesulitan bernapas tidak terjadi hingga beberapa jam setelah hidrokarbon masuk ke paru. Hidrokarbon yang tertelan juga dapat menyebabkan gejala sistem saraf, seperti gangguan koordinasi, kejang, dan penurunan kesadaran.

Keracunan hidrokarbon didiagnosa berdasarkan gambaran kejadian dan karakteristik bau yang ada, misalnya bau minyak tanah pada napas korban atau pakaian atau kontainer yang terdapat di dekat korban. Residu cat yang terdapat pada tangan atau di sekitar mulut menandakan bahwa sebelumnya korban menghirup bau cat. Pneumonia dan pneumonitis kimia dapat dipastikan dengan foto rontgen dan mengukur kadar oksigen dalam darah. Jika diduga terjadi kerusakan otak, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti magnetic resonance imaging (MRI).

Pengobatan

Untuk mengatasi keracunan hidrokarbon, pakaian yang terkontaminasi harus dilepaskan dan kulit yang terkena harus dicuci. Jangan melakukan dekontaminasi lambung dengan arang aktif, karena hidrokarbon bersifat korosif. Jika korban telah berhenti batuk dan tersedak, terutama jika tidak sengaja menelan zat dalam jumlah kecil, mungkin masih bisa dirawat di rumah setelah memeriksakan diri ke dokter terlebih dulu dan dilakukan observasi di rumah sakit selama 6-8 jam. Adapun korban yang mengalami gangguan napas harus dirawat inap di rumah sakit. Jika terjadi pneumonia atau pneumonitis akibat zat kimia, korban perlu diberi oksigen. Bila terjadi gangguan napas berat, mungkin diperlukan alat bantu napas (ventilator).

Tindakan untuk mencegah keracunan hidrokarbon, antara lain produk yang mengandung hidrokarbon atau bahan berbahaya harus disimpan di tempat khusus dan jauh dari jangkauan anak-anak. Bahan beracun seperti insektisida dan zat pembersih, jangan disimpan di botol minum, meski hanya sementara. Berikan label yang jelas pada setiap bahan berbahaya.

Penulis : DR. Dr. Dadang Hudaya Somastia, Sp.A(K), M.Kes

Ikatan Dokter Anak Indonesia

 *Artikel ini pernah dimuat di kolom Apa Kata Dokter?, KOMPAS, pada tanggal 29 Mei 2016


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.