Waspadai Diabetes Mellitus pada Anak


Diabetes Mellitus (DM) pada anak makin sering ditemukan seiring dengan kemajuan dalam ilmu kedokteran. Sebelum tahun 1980 kasus DM tipe-1 baru pada anak di seluruh Indonesia tercatat di bawah 100 kasus, namun jumlah ini terus meningkat, hingga tahun 2014 mencapai lebih dari 1.000 kasus (Data PP IDAI tahun 2014). Peningkatan jumlah kasus yang pesat ini terjadi karena meningkatnya ketelitian tenaga medis dalam mendeteksi kasus dan meningkatnya pengetahuan orangtua pasien tentang DM pada anak.

DM merupakan penyakit metabolik utama pada anak yang sifatnya kronik dan potensial mengganggu tumbuh kembang anak. Pada anak dikenal 2 jenis diabetes, yaitu DM tipe-1 dengan jumlah kadar insulin rendah akibat kerusakan sel beta pankreas, dan DM tipe-2 yang disebabkan oleh resistensi insulin, walaupun kadar insulin dalam darah normal. Faktor penyebab utama DM-tipe 1 adalah faktor genetik, sedangkan pada DM-tipe 2 biasanya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan kegemukan.

Gejala klinis DM yang khas adalah anak cenderung banyak makan, sering buang air kecil, terkadang hingga mengompol disertai dengan penurunan berat badan yang drastis (bisa sampai 6 kg dalam 2 bulan). Gejala lainnya, seperti sering lapar, mudah lelah, infeksi jamur, luka yang sulit sembuh, penglihatan kabur, kulit yang sering terasa gatal-gatal dan kering, rasa kebal dan sering merasa kesemutan di kaki. Namun, pada kenyataannya gejala-gejala tersebut tidak timbul jelas sehingga diagnosis DM sering terlewatkan. Selanjutnya, mungkin saja anak dapat mengalami ‘Kedaruratan DM’ dengan keluhan seperti nyeri perut, sesak napas, muntah berulang, dehidrasi, bahkan hingga penurunan kesadaran.

Pada anak, DM tipe-1 merupakan jenis DM yang paling sering ditemukan. DM tipe-1 sangat tergantung pada penggunaan insulin sebagai terapi utama, di samping tindakan penunjang seperti pengaturan makan, menjaga perubahan berat badan, olahraga yang teratur, dan sebagainya. DM tipe-1 memerlukan pengobatan seumur hidup sampai dewasa, sehingga perlu pemahaman orang tua dan pasien agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal. Berbeda dengan DM tipe-1 yang tidak bisa dicegah, kejadian DM tipe-2 pada anak dapat dicegah atau ditunda dengan pola diet seimbang dan olahraga yang teratur.

Dengan penyebaran informasi tentang DM pada anak, diharapkan kewaspadaan orangtua terhadap DM semakin meningkat sehingga penanganan penyakit ini dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Pada akhirnya, anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik layaknya anak sehat lainnya.

Yuk, mulai sekarang waspadai DM pada anak!

 

Sumber Gambar : http://thenutritionalsource.com

Penulis : Dr. Endang Triningsih, Sp.A(K)

Reviewer : Dr. Frida Soesanti, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.


Copyright © 2015, Ikatan Dokter Anak Indonesia, developed by PT Virtudraft Intermedia Telematika. All Rights Reserved