Bijakkah Periksa Darah Secara Mandiri Ketika Anak Demam ?


Ketika orang tua mendapati anaknya sakit demam tinggi, kerap kali terpikir untuk segera memeriksa darah ke laboratorium. Alasan yang paling sering diutarakan adalah khawatir anaknya sakit berat dan tidak segera terdeteksi bila tidak dari awal diperiksakan darahnya. Demam berdarah dan demam tifoid merupakan dua penyakit yang kerap menjadi sumber kekhawatiran orang tua.

Banyak orang tua yang tidak sabar dan tak mau berlama-lama menunggu anak harus dibawa ke dokter terlebih dahulu. Apalagi bila jadwal dokter anak  langganannya masih harus menunggu keesokan harinya.  Selain itu, ada pula yang beralasan karena pernah sudah pernah membawa anak ke dokter, ternyata tetap saja diminta periksa darah dulu, baru kemudian harus datang lagi. Pikir mereka, kalau begitu supaya lebih cepat ketahuan penyakitnya, mengapa tidak langsung periksa darah saja dahulu baru ke dokter ?

Memeriksakan laboratorium darah secara mandiri ada nilai positif dan ada pula nilai negatifnya. Positifnya, jelas waktu yang diperlukan jadi lebih cepat. Anak tidak perlu dibawa bolak-balik ke dokter, lalu ke laboratorium, dan kemudian ke dokter lagi. Harapannya, dokter dapat langsung mendiagnosis saat anak diperiksa berdasarkan data yang ditemukan dari hasil laboratorium yang dibawa orang tua.

Namun, pada kenyataannya hal ini menjadi percuma atau malah merugikan. Mengapa demikian ? Tidak jarang jenis pemeriksaan darah yang dilakukan ternyata tidak tepat atau tidak lengkap.  Misalnya, anak telah diperiksakan “darah rutin”, padahal dokter pada kasus itu memerlukan data  “darah lengkap” yang komponennya lebih lengkap. Pemeriksaan darah uji Widal dan serologi demam dengue juga sangat sering dimintakan secara tidak tepat oleh orang tua.

Kerugian lain yang juga sering terjadi, adalah waktu pemeriksana yang terlalu dini.Pemeriksaan darah terlalu dini akan memberikan hasil yang tidak banyak berguna untuk menegakkan diagnosis. Misalnya, pada demam ringan yang baru berlangsung 1-2 hari, umumnya pemeriksaan darah belum terindikasi karena tidak akan memberikan informasi yang berguna dalam menetapkan diagnosis. Pada saat seperti ini pemeriksaan dokter yang teliti, meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisis akan jauh lebih berguna. Tidak jarang anak tetap harus diperiksa darah lagi keesokan harinya. Tentunya pemeriksaan darah yang berulang menyebabkan bertambahnya biaya dan  anak jadi dua kali ditusuk dengan jarum.

Lantas bagaimana sebaiknya? Pemeriksaan laboratorium memang adakalanya penting dalam menetapkan diagnosis. Tetapi pemeriksaannya harus baik, tepat jenis pemeriksaan maupun  tepat saat pemberiannya. Bagaimana orang tua tahu yang tepat bagaimana? Tentunya dokter yang menangani anak itulah yang paling paham, karena itu semua tergantung kondisi dan riwayat sakit si anak. Jangan lupa, bahwa pemeriksaan darah merupakan penunjang diagnosis, sedangkan pemeriksaan oleh dokter merupakan dasar utama diagnosis ditegakkan. Dengan demikian, jelas bahwa idealnya anak yang sakit tetap perlu diperiksa dahulu ke dokter.

Penulis : Dr.Martinus M.Leman,Sp.A,DTM&H

Reviewer: Dr.Ari Prayitno,Sp.A

Ikatan Dokter Anak Indonesia


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.