Angry Birds The Movie


Kebalikan dengan kebanyakan film anak lainnya, film Angry Birds dibuat setelah permainannya laku keras beberapa tahun lalu. Alhasil berbagai adegan dan tokoh yang ada di film ini sesuai dengan apa yang kita kenal dalam permainan Angry Birds selama ini.

Dikisahkan terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh berbagai jenis burung yang tidak bisa terbang, dan terisolir dari dunia lain. Di pulau itu tinggallah Red, seekor burung yang cenderung emosional, mudah marah, dan kurang dapat bersosialisasi. Karena ia berkelahi dengan sebuah keluarga burung lain, ia dihukum untuk mengikuti terapi pengendalian amarah. Di sini ia akhirnya bertemu Chuck, yang dapat bergerak sangat cepat, Bomb yang dapat meledak bila marah, dan si pendiam Terence yang sangat besar badannya. Meskipun awalnya tidak mudah, akhirnya mereka dapat berteman selama menjalani terapi.

Pulau yang semula tenang ini kedatangan kapal yang membawa serombongan babi berwarna hijau dari pulau lain, yang menawarkan persahabatan.  Kehidupan di pulau ini pun berubah drastis dan terjadi interaksi yang terkesan baik antara para burung dan babi. Namun Red merasa ada keganjilan yang tidak seperti tampaknya, dan ia cenderung mencurigai para babi tersebut. Bersama Chuck dan Bomb, akhirnya Red mencari bantuan ke The Mighty Eagle, sang legenda pahlawan para burung.

Kecurigaan Red terbukti benar ketika para babi menipu para burung dan mencuri telur-telur yang ada di pulau tersebut untuk dibawa dan disantap di pulau babi. Akhirnya penghuni pulau burung pun meminta Red untuk memimpin penyelamatan telur-telur yang dicuri.

Film yang diproduksi Columbia Pictures ini disutradari Clay Kaytis dan Fergal Reilly, dengan naskah buatan Jon Votti. Berperan sebagai pengisi suara para tokoh, ada Jason Sudeikis, Josh Gad, Danny McBride, Maya Rudolph dan Peter Dinklage. Alur cerita yang ada pada dasarnya sangat sederhana, mengikuti permainan Angry Birds, yaitu pertarungan antara para burung dengan para babi yang hendak mencuri telur.

Menilik pesan moral yang hendak disampaikan film ini memang tidak banyak yang dapat diulas. Karakter Red yang cenderung pemarah, sinis, dan agak antisosial justru menjadi peran utama film ini. Meskipun di satu sisi ia memang juga pemberani dan tidak mudah menyerah, namun orangtua juga perlu menjelaskan pada anak untuk tidak meniru sikap tidak baiknya itu.

Namun demikian, film ini penuh bertabur pesan-pesan kecil yang dapat digunakan untuk berdiskusi mengenai mana perilaku yang sebaiknya dihindari dan yang sebaiknya dikembangkan ketika kita hidup bermasyarakat. Film dibuka dengan adegan Red terlambat datang satu jam dari waktu acara dimulai. Orangtua dapat mengambil bagian adegan tersebut dan menerangkan bahwa dalam hubungan sosial yang sehat, kita dapat menghargai tuan rumah dengan datang sesuai waktu undangan. Karakter tokoh Red juga tidak sepenuhnya buruk. Hal ini tampak dengan keberaniannya membela kawanan burung serta menyelamatkan telur-telur yang dicuri, meskipun mereka mengucilkannya dari pergaulan sehari-hari. Orangtua juga sebaiknya juga membahas isi film berdasarkan konteks keamanan anak dalam pergaulan serta permainan sehari-hari. Tunjukkan potensi destruktif permainan ketapel, dan ingatkan anak mengenai batas-batas aman dalam bermain.

Secara keseluruhan, film yang mendapat kategori ‘semua umur’ ini memang penuh hal-hal yang lucu, dengan animasi yang sangat halus dan detil, sehingga akan mengundang tawa anak-anak yang menonton tanpa harus banyak berpikir. Apakah film ini akan menyebabkan anak-anak ‘demam Angry Birds’ lagi? Mari kita siap-siap.....

Keterangan:
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak memiliki kerja sama dalam bentuk apapun dengan pihak pengembang tayangan / game yang bersangkutan.

Sumber Gambar:
http://google.com

 

Penulis: dr. Martinus M. Leman, DTMH, Sp.A

Reviewer: dr. Catharine Mayung Sambo, Sp.A

Ikatan Dokter Anak Indonesia

 

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.