Snoopy and Charlie Brown – The Peanuts Movie


 

Film yang diproduksi oleh Blue Sky Studios dan didistribusikan oleh 20th Century Fox ini beredar di Indonesia pada bulan Desember 2015. Film ini merupakan film animasi 3D menggunakan komputer yang cukup enak dilihat dan layak menjadi tontonan keluarga (khususnya bersama anak usia SD-SMP) di akhir tahun.

Tokoh utama cerita adalah Snoopy yang merupakan seekor anjing beagle, dan majikannya, seorang anak bernama Charlie Brown. Tokoh-tokoh yang ada dalam film sebenarnya sudah ada sejak tahun 1950an, yaitu sekelompok anak yang tinggal dalam lingkungan yang sama dan duduk di sekolah yang sama. Selain Charlie Brown, ada adiknya Sally Brown dan teman-teman sekelasnya Marcie, Peppermint Patty, Linus, Lucy, Pigpen, dan Schroeder. Snoopy si anjing ditemani rekan setianya Woodstock, seekor burung kenari. Para karakter ini berasal dari komik strip Peanuts yang diciptakan oleh mendiang Charles M. Schulz (1922-2000). Dalam film ini, sutradara dan produsernya adalah anak dan cucu Charles M. Schulz sendiri, yaitu Craig dan Bryan Schulz.

Garis besar cerita adalah kegundahan Charlie Brown ketika hadir tetangga baru yang juga menjadi teman sekelasnya, yaitu Little Red-Haired Girl. Charlie jatuh hati dan berupaya keras memikat hatinya. Namun ia merasa tidak percaya diri sehingga mengalami banyak hambatan. Dengan didukung anjingnya, Snoopy, ia berusaha mengubah citra dirinya dari pencundang menjadi anak yang ‘keren’. Berjalan paralel dengan cerita tentang Charlie, ada juga cerita imajinasi Snoopy dalam upayanya mendekati Fifi, anjing betina pujaannya.

Cerita bergulir dalam upaya Charlie menjadi seorang yang menarik demi menjadi pusat perhatian teman-temannya. Dalam proses itu ia selalu gagal, namun justru sebenarnya ternyata ada nilai-nilai kebaikan lain yang akhirnya ia pahami belakangan. Karakter asli yang telah dimiliknya ternyata justru menjadi daya tariknya.

Film ini mengajarkan rasa sayang seorang kakak yang mengalahkan kepentingan pribadi, ketika Charlie harus batal tampil demi ‘menyelamatkan’ adiknya, yang menangis di panggung pentas sekolah. Juga tentang kejujuran yang harus ditebus dengan popularitasnya, ketika ia mengakui sebenarnya bukan ia yang mendapat nilai terbaik di sekolah. Ada pula kisah tentang bagaimana ia berusaha keras dan tidak mau menyerah ketika harus membuat tugas sekolah dan berusaha menerbangkan layangan. Ketertarikan seorang anak lelaki terhadap anak perempuan pun digambarkan dengan halus dan wajar sesuai usianya. Tidak ada ilustrasi vulgar atau unsur ketertarikan yang tidak wajar.

Banyak yang bisa menjadi bahan diskusi dengan anak dari kisah film ini. Dari karakter Charlie Brown, kita belajar pantang menyerah. Di tengah masyarakat yang kini terbiasa berperang kata-kata melalui media sosial, Charlie Brown mengajarkan bagaimana membalas kegagalan dan cemoohan dengan perbuatan baik, altruisme, sportivitas, dan usaha tanpa henti. Bagi anak yang canggung dan clumsy seperti Charlie Brown, film ini membantu mereka memahami perasaan mereka sendiri, sekaligus memberikan harapan bahwa dengan semangat dan kebaikan, mimpi tetap dapat diraih. Berbagai kepribadian yang dipertontonkan oleh tokoh-tokoh penyerta pun dapat menjadi cermin diri baik bagi anak maupun orangtua: Lucy yang bossy, sok tahu, dan mau menang sendiri, Peppermint Patty yang cuek dan tomboy, Marcie si kutu buku, Linus yang masih suka mengisap jempol namun bijaksana dan baik hati, Pigpen yang selalu dekil, dan Sally yang suka mengambil keuntungan. Interaksi jenaka Snoopy dan Woodstock menjadi bumbu penyegar sekaligus gambaran persahabatan sejati.

Genre kartun yang tidak mengumbar kekerasan dan perkelahian maupun humor slapstick, namun mengangkat tema keseharian ini memang semakin terdesak dengan makin banyaknya film kartun dan komik Jepang yang ada saat ini. Namun cerita dalam film ini dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk mengajarkan kebaikan pada anak. Di sisi lain, bila anak menonton film ini tanpa didampingi orang tua, kemungkinan nilai yang diajarkan kurang tercerna oleh anak.

Terlepas dari film ini, karakter Snoopy dan the Peanuts sebenarnya sudah lama ada dalam berbagai bentuk cerita bergambar. Ilustrasi yang lucu, tentang keakraban antar-anak dan keluguannya menggambarkan kesehari-harian yang jauh dari kekerasan, perkelahian, rasa kebencian, dan erotisme yang semakin marak saat ini.

 

Keterangan:

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak memiliki kerja sama dalam bentuk apapun dengan pihak pengembang tayangan / game yang bersangkutan.

 

Sumber Gambar:

http://google.com

 

Penulis:

Martinus M. Leman

Amanda Soebadi

Ikatan Dokter Anak Indonesia


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.