The Good Dinosaur – Dino yang Baik


 

Martinus M. Leman, Amanda Soebadi

 

Film genre animasi komedi keluarga ini merupakan hasil kolaborasi Pixar Animation Studios dan Walt Disney Pictures dengan sutradara Peter Sohr (juga menjadi sutradara film Finding Nemo dan Ratatouille). Film ini tayang di bioskop di Indonesia pada awal bulan Desember 2015.

Sebagai latar belakang kisah ini, para penulis cerita berandai-andai jika dinosaurus tidak pernah punah dan masih hidup tatkala manusia sudah menghuni bumi. Cerita berkisah tentang Arlo, seorang anak dinosaurus herbivora jenis apatosaurus, yang hidup dalam sebuah keluarga bersama ayah, ibu, dan dua saudaranya. Dilukiskan bahwa mereka merupakan keluarga yang cukup bahagia, saling membantu dalam mempertahankan kehidupannya dengan bercocok tanam.

Karakter Arlo sebagai si bungsu ditampilkan sebagai anak yang penakut dan lebih lemah dibandingkan kedua saudara kandungnya; ia bahkan kerap menjadi bulan-bulanan saudaranya. Arlo pun berusaha keras mengatasi rasa takutnya dan membuat ayahnya bangga. Meskipun anak bungsunya ini tidak segagah kakaknya, namun kedua orangtua berusaha selalu mendukungnya sepenuh hati.

Inti kisah dimulai ketika Arlo mendapat tugas menangkap “hama” yang kerap menghabiskan persediaan makanan musim dingin keluarganya. Si “hama” yang berhasil tertangkap – yang ternyata adalah seorang anak lelaki kecil – justru berhasil lolos karena belas kasihan Arlo. Untuk menebus kesalahannya, Arlo pergi bersama ayahnya menyusuri sungai. Saat itulah terjadi musibah banjir bandang yang memakan nyawa ayah Arlo. Arlo sendiri terseret arus sungai hingga jauh dari rumahnya. Terhempas jauh dari lingkungan asalnya, Arlo pun berusaha mencari jalan pulang sendirian.

Dalam perjalanan berupaya kembali ke rumah, Arlo bertemu seorang anak manusia, yang akhirnya dipanggil Spot. Meski tidak memiliki bahasa yang sama, mereka akhirnya dapat saling memahami dan menolong. Perjalanan mereka tidaklah mudah, karena harus melalui jarak yang jauh dan menghadapi berbagai binatang lain yang tidak ramah pada mereka. Akhirnya setelah melalui berbagai rintangan dalam perjalanan ini, karakter Arlo pun berkembang menjadi dinosaurus yang berani dan berhasil mengatasi rasa takutnya.

Sepanjang film yang menyuguhkan berbagai animasi yang cantik dan adegan lucu ini, berbagai nilai moral disisipkan tanpa terasa menggurui. Cerita ini menampilkan figur ayah yang mendukung anak dalam keadaan apapun, figur kakak yang suka usil namun tetap merindukan adiknya, dan figur Arlo yang tetap mencari keluarganya apapun yang telah ia alami. Keutamaan keluarga juga ditampilkan ketika Arlo harus merelakan Spot yang menemukan keluarga barunya.

Meskipun secara logika orang dewasa adanya keluarga dinosaurus seperti ini terasa ‘aneh’, namun ternyata tidak bagi sebagian anak usia SD-SMP yang menonton. Cukup banyak anak yang menghayati cerita dengan sepenuh hati dan terbawa emosi, khususnya saat Arlo menghadapi keganasan sungai yang mengingatkan akan kematian ayahnya – walau terkadang adegan ini terasa diulang-ulang. Tentunya dengan selipan berbagai adegan lucu dan akhir cerita yang bahagia, anak-anak dapat kembali gembira menontonnya.

Yang juga menarik dalam film ini adalah bagaimana si anak manusia ditampilkan bak hewan peliharaan dinosaurus – suatu premis yang menantang pandangan konvensional bahwa manusia adalah makhluk termulia di alam semesta. Hal ini dapat menjadi bahan diskusi yang unik dengan anak yang lebih besar: Benarkah derajat manusia lebih tinggi dibandingkan makhluk lain? Apa yang membuatnya demikian? Mungkinkah akan berbeda halnya seandainya evolusi alam semesta menempuh jalan yang berbeda?

Film ini dapat menjadi salah satu pilihan yang baik untuk menjadi media orangtua menanamkan nilai-nilai kekeluargaan dan mengajarkan anak untuk menaklukan rasa takutnya. Bagi anak berusia prasekolah hingga awal sekolah dasar, tentu masih diperlukan bimbingan orangtua untuk memahami cerita seutuhnya.

 

Keterangan:

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak memiliki kerja sama dalam bentuk apapun dengan pihak pengembang tayangan / game yang bersangkutan.


Sumber Gambar:

http://google.com 

 

Penulis:

Martinus M. Leman

Amanda Soebadi

Ikatan Dokter Anak Indonesia


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.