LINDUNGI ANAK DARI ABU VULKANIK


Mengapa abu vulkanik berbahaya?

Debu abu vulkanik yang dihasilkan oleh sebuah letusan gunung berapi dapat menyebar hingga ratusan kilomter jauhnya di udara sekitar gunung yang terkena dampak dan dapat menyebabkan banyak gangguan kesehatan pada anak.

Abu vulkanik saat di udara biasanya ukurannya sangat kecil, kurang dari 2µm dan dapat menghasilkan materi padat atau gas yang berbahaya seperti CO (karbon monoksida), SO2 (sulfur dioksida), H2S (hidrogen sulfida), metana dan lainnya. Secara umum abu vulkanik yang bersifat iritan dan korosif dapat menyebabkan masalah kesehatan khususnya menyebabkan pada kulit, mata, otot dan saluran napas.

 Bagaimana risiko bahaya terhadap anak dibandingkan orang dewasa?

Anak lebih sensitif dibandingkan orang dewasa karena anak kecil menghirup jumlah udara yang terpolusi oleh abu yang lebih besar jumlahnya. Anak bernapas lebih frekuen, anak lebih aktif dan mempunyai proporsi ukuran paru terhadap ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan orang dewasa. Udara yang berpolusi sebagian dapat disaring melalui hidung dan saluran napas sebelum mencapai paru, namun anak sering bernapas melalui mulut sehingga filtrasi partikel polutan kurang efisien.

Apa dampak abu vulkanik terhadap kesehatan anak?

Kesehatan kulit:

Material vulkanik yang bersifat asam dan mengenai kulit tubuh anak dapat menyebabkan gatal-gatal, iritasi, dan infeksi. Iritasi pada kulit tersebut bisa juga diakibatkan oleh perubahan kualitas air yang sudah tercemar abu vulkanik yang bersifat asam.

 Kesehatan mata:

Debu vulkanik memiliki sudut kristal yang meruncing atau tajam, sehingga dapat menggores dan menyebabkan iritasi. Selain berbahaya jika terhirup, debu tersebut juga dapat menyebakan gangguan pada mata. Selain menyebabkan iritasi berupa mata merah dan gatal serta berair, debu vulkanik juga dapat merusak lapisan kornea pada mata.

Kesehatan saluran napas:

Material debu yang masuk melalui saluran pernafasan bisa menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan hingga terjadi infeksi, yang dikenal dengan istilah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Gejala pernapasan akut yang sering muncul yaitu :

  • Keluhan bersin, pilek, beringus, dan sakit tenggorokan.
  • Batuk kering, batuk dahak, mengi (napas berbunyi ngik-ngik)
  • Sakit dada atau sesak napas
  • Sakit kepala

 Gangguan tersebut akan lebih berat bila terkena pada anak yang sebelumnya mempunyai riwayat alergi saluran napas, bronkitis atau asma serta anak dengan penyakit jantung bawaan maupun anak yang telah memiliki kelainan paru

Bagaimana upaya menghindari dampak negatif abu vulkanik terhadap anak?

  1. Paling baik adalah mengungsikan anak menjauhi lokasi yang terkena dampak letusan, yaitu lokasi yang mulai dipenuhi oleh abu vulkanik.
  2. Tetap tinggal di dalam rumah dan pastikan rumah tertutup rapat.
  3. Jauhkan anak saat membersihkan abu, misalnya saat menyapu abu vulkanik.
  4. Matikan alat yang menghisap udara luar masuk ke dalam rumah (misal AC). AC disetel pada mode “air recirculation” atau “closed vent”
  5. Gunakan masker khusus anak dan pastikan masker terpasang dengan baik. Ajarkan pula anak bagaimana cara memakai masker yang baik dan benar.
  6. Berikan pelindung mata pada anak, dapat berupa kacamata untuk anak-anak.
  7. Kenakan pakaian tertutup pada anak untuk mengurangi paparan langsung abu vulkanik pada kulit sensitif anak.
  8. Siapkan obat-obatan rutin jika memiliki riwayat penyakit asma atau riwayat alergi saluran pernapasan.
  9. Hindarkan dari polusi asap di dalam rumah seperti asap rokok atau asap rumah tangga yang memperburuk kondisi udara lingkungan.
  10. Pastikan anak mengkonsumsi cairan yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
  11. Segera hubungi petugas kesehatan terdekat jika timbul gejala atau gangguan kesehatan akibat terkena abu vulkanik.

Jangan abaikan gangguan saluran napas pada anak karena dapat menyebabkan masalah yang serius hingga berujung pada kematian anak.

 

Penulis :

Dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K)

 

 

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.