MEMAHAMI DEMAM BERDARAH DENGUE (BAGIAN 2)


 Bagaimana gejala penyakit DBD ?

  1. Fase demam ditandai dengan demam yang mendadak tinggi, terus menerus , disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi, kemerahan pada kulit, khususnya kulit wajah (flushing). Gejala lain seperti nafsu makan berkurang, mual, dan muntah sering ditemukan.

Pada fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan dengue, maupun antara penyakit dengue berat dan yang tidak berat. Bila diperiksa laboratorium darah, biasanya ada penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan pada awal jumlah trombosit dan nilai hematokrit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal. Fase ini biasanya berlangsung selama 2–7 hari.

 

  1. Fase kritis biasanya terjadi paling sering pada hari ke-4–6 (dapat terjadi lebih awal pada hari ke-3 atau lebih lambat pada hari ke–7) sejak dari mulai sakit demam. Pada fase ini terjadi peningkatan permeabilitas pembulu darah kapiler sehingga akan terjadi perembesan plasma (plasma leakage), sehingga darah menjadi kental, dan apabila tidak mendapat terapi cairan yang memadai, dapat menyebabkan syok sampai kematian.

Sering disertai tanda bahaya berupa muntah yang terus menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, dari hidung, gusi, sampai terjadi muntah darah dan buang air besar berdarah.

Pada fase ini juga dapat ditemukan badan dingin (terutama pada ujung lengan dan kaki) sebagai tanda syok, tampak lemas, bahkan terjadi penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan darah dapat ditemukan penurunan jumlah trombosit yang disertai peningkatan nilai hematokrit yang nyata.

Fase ini  terjadi pada saat suhu tubuh mulai mengalami penurunan sampai mendekati batas normal (defervescence). Hal ini yang sering menyebabkan terlambatnya orang berobat, karena menganggap bila suhu tubuh mulai turun berarti penyakit akan mengalami penyembuhan. Pada pasien yang tidak mengalami peningkatan permeabilitas kapiler akan menunjukkan perbaikan klinis menuju kesembuhan.

 

  1. Fase pemulihan biasanya berlangsung dalam waktu 48 – 72 jam yang ditandai oleh perbaikan keadaan umum, nafsu makan pulih, anak tampak lebih ceria, dan pengeluaran air kemih (diuresis) cukup atau lebih banyak dari biasanya.

Pada pemeriksaan laboratorium darah nilai hematokrit akan mengalami penurunan sampai stabil dalam rentang normal dan disertai peningkatan jumlah trombosit secara cepat menuju nilai normal.

 

Bagaimana pengobatan penyakit DBD ?

Sampai saat ini belum ada obat (anti virus) yang spesifik untuk penyakit ini. Pengobatan yang utama adalah mempertahankan keseimbangan ciran dengan pemberian cairan yang cukup, tidak kurang maupun berlebihan. Jenis, jumlah, dan cara pemberian berdasar atas fase penyakit, keadaan klinis, dan atas panduan nilai hematokrit.

 

Apabila tidak ada muntah dan masih mau minum, pada fase demam masih boleh dirawat di rumah dengan pemberian cairan/minum dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Pengobatan lain berupa simtomatik khususnya pemberian obat antipiretik (penurun demam). Obat yang direkomendasikan adalah obat yang mengandung parasetamol, sedangkan asetosal dilarang penggunaannya dan ibuprofen tidak direkomendasikan.

 

Keberhasilan pengobatan sangat dipengaruhi oleh diagnosis dini dan pemantauan keadaan klinis serta  pemberian cairan yang tepat.

.

 Bagaimana pencegahan penyakit DBD?

Masyarakat perlu mewaspadai dan mengantisipasi serangan penyakit DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan supaya dapat menghilangkan sarang atau tempat perindukan nyamuk.

 

Saat ini, pencegahan DBD yang paling efektif dan efisien adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu:

 

  • Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, tempat minum burung, vas bunga, dan lain-lain sekurang-kurangnya 7 hari sekali;

 

  • Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, toren air, dan sebagainya;

 

 

  • Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk atau kalau tidak memungkinkan dibuang dengan cara menguburnya.

 

 Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seprti: menggunakan kelambu saat tidur, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah, mengoleskan obat anti nyamuk (repellent) pada daerah kulit terbuka, kecuali muka, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, serta memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; dan lain-lain.

 

Adapun pengasapan (fogging) merupakan upaya pencegahan yang kurang efektif, bila tidak disertai PSN, karena hanya membunuh nyamuk dewasa. Apabila akan dilakukan juga harus memenuhi persyaratan tertentu. Menurut Pedoman Kemenkes RI tahun 2007, kegiatan pengendalian vektor dengan pengasapan atau fogging fokus dilakukan di rumah pasien/tersangka DBD dan lokasi sekitarnya yang diperkirakan menjadi sumber penularan. Kegiatan ini dilakukan bila hasil penyelidikan epidemiologi (PE) positif yaitu ditemukan penderita/tersangka DBD lainnya atau ditemukan tiga atau lebih orang dengan demam tanpa sebab dan ditemukan jentik > 5%. Fogging dilaksanakan dalam radius 200 meter dan dilakukan dua siklus dengan interval kurang lebih 1 minggu. 

Penulis:

Djatnika Setiabudi

UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI

IDAI Cabang Jawa Barat


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.