Mengenal Penyakit Ginjal Kronis pada Anak


Tema Hari Ginjal Sedunia yang tahun ini diperingati pada tanggal 10 Maret 2016 salah satunya mengusung penyakit ginjal pada anak yang ditekankan kepada pengenalan dini dan bagaimana pencegahan serta penanganan seawal mungkin agar tidak berkembang lebih lanjut. Informasi ini penting diketahui oleh masyarakat umum terutama oleh para orangtua, tenaga medis, dan pembuat kebijakan. Hal-hal yang perlu disampaikan menyangkut pentingnya mengenali gejala dan tanda penyakit ginjal, mengetahui faktor risiko, menanamkan kesadaran untuk datang memeriksakan ke dokter atau tenaga kesehatan bila merasa sakit, dan mengobati penyakit sesuai dengan anjuran dokter atau tenaga kesehatan agar terbentuk generasi masa depan yang lebih kuat dan sehat. Salah satu yang harus diwaspadai adalah penyakit ginjal kronis.

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia termasuk di negara kita. Angka kejadiannya terus meningkat, mempunyai prognosis buruk, dan memerlukan biaya perawatan yang mahal. Di negara-negara berkembang PGK lebih kompleks lagi masalahnya karena berkaitan dengan tingkat sosioekonomi dan penyakit-penyakit yang mendasarinya. Angka kematian dan kejadian penyakit yang tinggi, disebabkan penderita baru datang ke pusat pelayanan kesehatan dalam tahap lanjut. Bila PGK dapat dideteksi lebih awal dan faktor risikonya dapat diketahui, maka penanganan lebih awal akan memperlambat terjadinya penyakit ginjal tahap akhir dan terhindar dari komplikasi penyakit jantung serta komplikasi lainnya. Penyakit ini sering ditemukan dalam tahap lanjut setelah memberikan gejala yang nyata sehingga kehilangan kesempatan untuk melakukan pencegahan dan penanganan faktor risiko atau penyebabnya sejak awal. Bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa perjalanan PGK tersebut dapat diperbaiki dengan melakukan pengenalan dini dan memberikan penanganan yang lebih awal. Penyakit ginjal kronis tidak akan sembuh dengan pengobatan dan cenderung memburuk dari waktu ke waktu sampai pada suatu saat terjadi gagal ginjal tahap akhir. Gagal ginjal tahap akhir hanya dapat diobati sementara dengan “cuci darah” atau istilah kedokterannya adalah dialisis, baik dialisis peritoneal ataupun hemodialisis. Tindakan ini bersifat sementara sambil menunggu persiapan dilakukan transplantasi ginjal. Jadi pengobatan definitif gagal ginjal tahap akhir adalah transplantasi ginjal.     

 

Apa itu penyakit ginjal kronis ?

Seorang anak dikatakan menderita PGK bila didapatkan salah satu kriteria yaitu kerusakan ginjal berlangsung selama 3 bulan atau lebih, berupa kelainan struktur atau fungsi dengan atau tanpa penurunan fungsi yang diukur melalui laju filtrasi glomerulus (LFG), dapat berbentuk adanya kelainan dalam komposisi urin atau adanya kelainan dari hasil pencitraan atau dari biopsi ginjal. Kriteria lainnya, yaitu terdapat penurunan LFG <60 mL/menit/1,73 m2  selama 3 bulan atau lebih dengan atau tanpa gejala kerusakan ginjal yang telah disebutkan. Pembagian PGK menjadi beberapa tahap mempunyai tujuan untuk pencegahan, pengenalan awal kerusakan ginjal dan penatalaksanaan, serta untuk menghindari komplikasi. Ada lima tahap PGK, yaitu: tahap 1 kerusakan ginjal dengan LFG normal, tahap 2 kerusakan ginjal dengan penurunan LFG ringan, tahap 3 kerusakan ginjal dengan penurunan LFG sedang, tahap 4 kerusakan ginjal dengan penurunan LFG berat, dan tahap 5 kerusakan ginjal tahap akhir dengan LFG <15 mL/menit/1,73m2.

 

Penyebab dan faktor risiko PGK

Penyebab PGK pada balita paling sering adalah kelainan bawaan, misalnya kelainan atau kekurangan dalam pembentukan jaringan ginjal, disertai adanya sumbatan atau tanpa sumbatan. Sedangkan pada usia 5 tahun ke atas sering disebabkan oleh penyakit yang diturunkan (misalnya penyakit ginjal polikistik) atau penyakit yang didapat (misalnya glomerulonefritis kronis). Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya PGK adalah: riwayat keluarga dengan penyakit ginjal polikistik atau penyakit ginjal genetik, bayi dengan berat lahir rendah atau prematur, anak dengan riwayat gagal ginjal akut, kelainan bawaan ginjal, infeksi saluran kemih, riwayat menderita sindrom nefrotik atau sindrom nefritis akut atau sindrom hemolitik uremik, riwayat menderita penyakit sistemik (kencing manis, lupus, Henoch Schoenlein purpura), dan riwayat menderita tekanan darah tinggi. 

 

Mengenal gejala klinis PGK

Keluhan pertama anak dengan PGK saat dibawa ke dokter sangat beragam, mungkin berkaitan dengan penyakit ginjal yang mendasarinya ataupun sebagai akibat gangguan fungsi ginjal yang sudah menurun. Pada saat awal penyakit tidak menunjukan adanya gejala, kemudian berkembang secara tersembunyi. Gejala timbul setelah fungsi ginjal jauh menurun dengan LFG <30%. Gejala-gejala PGK yang mudah dikenali oleh orang tua, yaitu:

  • Tidak ada nafsu makan, sering didapatkan muntah-muntah, hal ini disebabkan adanya peningkatan kadar ureum dalam darah
  • Tampak pucat oleh karena anemia akibat zat eritropoietin yang dibentuk oleh jaringan ginjal berkurang. Zat eritropoietin ini adalah bahan pembentuk sel darah merah di dalam sumsum tulang
  • Kelelahan (letargis), terjadi kekurangwaspadaan aktivitas mental dan fisik akibat racun ureum yang tinggi di dalam darah
  • Gagal tumbuh disebabkan oleh nafsu makan yang kurang dan disertai muntah-muntah yang berlangsung lama
  • Kecepatan penambahan tinggi badan yang lambat dan pubertas yang terlambat
  • Urin berwarna merah merupakan gejala awal dari sindrom Alport atau  penyakit ginjal polikistik
  • Bengkak di wajah disertai tekanan darah yang meningkat dan urin berwarna merah mengarahkan ke PGK yang disebabkan oleh penyakit ginjal glomerulonefritis
  • Ngompol dapat merupakan gejala PGK, sebagai petunjuk adanya ngompol siang hari,   adanya riwayat banyak minum dan urin yang dikeluarkan banyak
  • Teraba benjolan dalam rongga perut atau dalam kandung kemih, merupakan petunjuk awal yang menjadi dasar penyebab PGK
  • Keluhan yang mengarah adanya infeksi saluran kemih berulang, dapat memberi petunjuk akan adanya kelainan pada sistem saluran kemih/ginjal

 

Pemeriksaan dan pemantauan

Anak dengan PGK pada saat datang ke rumah sakit, sulit dibedakan dengan keadaan akut pada gangguan ginjal akut yang bersifat sementara atau merupakan PGK tahap akhir. Untuk membantu membedakan keadaan ini adalah sebagai berikut: pada gangguan ginjal akut tidak ditemukan riwayat penyakit ginjal sebelumnya, gambaran ultrasonografi (USG) ginjal normal atau ada sedikit pembesaran, hasil pemeriksaan darah didapatkan anemia hemolitik dan kadar trombosit yang menurun. Sedangkan pada PGK didapatkan adanya riwayat penyakit ginjal sebelumnya atau riwayat penyakit ginjal keluarga, gambaran USG ginjal mengecil, ginjal asimetris, didapatkan kista, gambaran darah berupa anemia dengan bentuk sel darah merah dan warna normal, adanya kelainan organ akibat  hipertensi, misalnya kelainan pada retina mata, gangguan pertumbuhan, bukti pemeriksaan radiologis dari  kelainan tulang.  Melakukan anamnesa yang teliti dan melakukan pemeriksaan fisik yang seksama dapat membantu mengetahui penyakit yang mendasari sebagai penyebab PGK, pada sebagian anak dengan PGK diperlukan investigasi spesifik untuk mencari penyebabnya. Pemeriksaan pencitraan seperti USG dapat membantu menegakkan diagnosis PGK dan memberikan petujuk ke arah penyebab PGK.

 

Pencegahan

Tenaga dokter berperan dalam skrining pasien anak dengan risiko tinggi, mencegah kerusakan ginjal, dan merubah perjalanan penyakit PGK dengan melakukan penanganan awal dan pengawasan progresifitas penyakit. Orangtua ataupun masyarakat dapat melakukan upaya pencegahan primer PGK yaitu dengan cara mencegah pemaparan terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit ginjal, misalnya strategi untuk mengurangi pemaparan terhadap infeksi pada saat kehamilan, pencegahan penyakit ginjal yang diturunkan dengan cara konseling genetik, pencegahan obesitas, deteksi awal dan penanganan hipertensi dan kencing manis. Pencegahan sekunder dilakukan bekerja sama antara tenaga dokter dan keluarga dalam upaya pencegahan terjadinya progresifitas kerusakan ginjal dari PGK stadium 1-5 dengan melakukan penanganan yang tepat pada setiap tahap PGK. Sedangkan pencegahan tersier berfokus pada penundaan komplikasi jangka panjang, disabilitas atau kecacatan akibat PGK dengan cara pemasangan dialisis atau transplantasi ginjal.  

Antisipasi, mencari faktor risiko dan penanganan lebih awal dari penyakit ginjal akan mencegah perkembangan penyakit ginjal kronis lebih lanjut sehingga terhindar dari berbagai komplikasi yang tidak diinginkan.

 

Penulis: Dedi Rachmadi

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Artikel sudah dimuat pada Kompas, Kolom Klasika, pada tanggal 6, 13, dan 20 Maret 2016.

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.