|
Ikatan Dokter Anak Indonesia
Cikal bakal Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dibentuk pada tanggal 14 Juni 1954,
bertepatan dengan ulang tahun Dr. Sudjono D. Pusponegoro dan Prof. Sutedjo. Sebagai
ketua IDAI pertama (1954-1968) adalah Prof.Dr. Sudjono D. Pusponegoro dengan
anggota pengurus Prof. M.D. Hidayat, Dr. Sutedjo, Dr. Te Bek Siang, Dr. Ismangoen, Dr.
Kwari Satjadibrata, Dr. Kho Ling Keng, dan Dr. Jo Kian Tjaij.
Ketua IDAI selanjutnya adalah :
- Prof. Sutedjo I (1968 - 1974),
- Prof. R.O. Odang (1974 - 1977),
- Dr. A.H. Markum (1978 - 1981),
- Dr. Sofyan Ismael (1981 - 1984),
- Dr.Sumarmo Poorwo Soedarmo (1984 - 1987),
- Prof.Dr. A.H. Markum (1987 - 1989),
- Dr, Asril Aminullah (1989 - 1990, karena Prof. A.H. Markum wafat 1989),
- Dr. M. Hardjono Abdoerrachman (1990 - 1993),
- Dr. Asril Aminullah (1993 - 1996),
- Dr. Noenoeng Rahajoe (1996 - 1999),
- Dr. Jose Rizal Latif Batubara (1999 - 2002),
- Dr. Hardiono D. Pusponegoro (2002 - 2005),
- Dr. Sukman Tulus Putra (2005 - 2008), dan
- Dr. Badriul Hegar (2008 - 2011).
IDAI adalah satu-satunya organisasi profesi Dokter Spesialis Anak Indonesia yang
bernaung di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dalam bahasa Inggris IDAI disebut
dengan Indonesian Pediatrics Society. IDAI berasaskan Pancasila, bertujuan ikut serta
meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan anak, mengembangkan ilmu
kesehatan anak, dan meningkatkan kesejahteraan anggota. Untuk mencapai tujuannya
IDAI membantu pemerintah dalam membina dan meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan anak, berpartisipasi aktif dalam penelitian kesehatan anak dan kesejahteraan
anak, memberikan pengarahan, pembinaan, dan melaksanakan pendidikan ilmu kesehatan
anak, meningkatkan kemampuan profesi dokter spesialis anak, menjalin kerjasama dengan
organisasi dokter spesialis anak regional dan internasional, organisasi kesehatan dan
kesejahteraan anak lain, di samping mempersatukan, memperjuangkan dan memelihara
kepentingan/ kedudukan dokter spesialis anak Indonesia.
Masa bakti Pengurus Pusat IDAI adalah selama 3 tahun, dengan sekretariat berkedudukan
di ibukota Republik Indonesia. Anggota IDAI berkewajiban menjunjung tinggi dan
mengamalkan sumpah dokter dan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), Anggaran
Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) IDAI, peraturan dan keputusan IDAI.
Sampai KONIKA XIV tahun 2008 di Surabaya, Jawa Timur, jumlah anggota IDAI yang
terdaftar resmi sebanyak 2305 orang.
Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak
Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) adalah badan legislatif tertinggi di
dalam organisasi IDAI, karena merupakan forum musyawarah utusan IDAI Cabang,
Pengurus Pusat IDAI beserta semua jajarannya, dan Kolegium Ilmu Kesehatan Anak
Indonesia (Kolegium IKAI). Sidang KONIKA terdiri dari sidang organisasi dan sidang
ilmiah. KONIKA diadakan sekali dalam 3 tahun, tetapi dalam keadaan mendesak, KONIKA
dapat diselenggarakan atas usul Pengurus Pusat IDAI, Pengurus Nasional Kolegium IKAI,
atau salah satu IDAI Cabang dengan persetujuan dari sekurang-kurangnya duapertiga
jumlah IDAI Cabang dan Pengurus Nasional Kolegium IKAI.
Sidang organisasi KONIKA dilakukan untuk menyempurnakan AD-ART dan Renstra,
menilai pertanggungan jawab Pengurus Pusat IDAI dan Kolegium IKAI, memilih ketua
umum Pengurus Pusat IDAI dan ketua Kolegium IKAI, menilai dan menetapkan IDAI
Cabang baru, menetapkan keanggotaan, menentukan tempat KONIKA dan PIT berikut,
menetapkan uang pangkal, iuran langganan Pediatrica Indonesiana, Sari Pediatri, dan
ketentuan yang berhubungan dengan profesi, serta membahas dan merumuskan masalah
ilmu kesehatan anak dengan memperhatikan Renstra.
KONIKA I diselenggarakan pada tanggal 12-15 April 1968 di Semarang, KONIKA II di
Bandung (21-25 April 1971), sedangkan KONIKA III di Surabaya pada tanggal 1-6 Juli 1974.
KONIKA IV dengan tema "Peningkatan pelayanan kesehatan anak dalam masyarakat"
diselenggarakan di Yogyakarta (21-25 Mei 1978), KONIKA V diselenggarakan di Medan,
dengan tema "Tumbuh kembang sempurna masa depan cemerlang" (14-18 Juni 1981),
dan KONIKA VI di Denpasar (6-19 Juli 1984) dengan tema "Kesehatan anak masa kini
menjamin kesejahteraan bangsa masa depan". KONIKA VII diselenggarakan di Jakarta
(11-15 September 1987) dengan tema "Memantapkan kesehatan anak mempersiapkan
era tinggal landas". KONIKA VIII di Ujung Padang (11-14 September 1990) dengan tema
"Meningkatkan kualitas anak menunjang pembangunan bangsa". KONIKA IX di Semarang
(13-16 Juni 1993) dengan tema "Memantapkan kualitas perlindungan anak menunjang
pembangunan nasional jangka panjang II", KONIKA X di Bukittinggi (16-20 Juni 1996)
dengan tema "Meningkatkan profesionalisme IDAI untuk mewujudkan sumber daya
manusia yang berkualitas", sedangkan KONIKA XI diselenggarakan di Jakarta tanggal 4-7
Juli 1999 dengan tema "Mempersiapkan dan mengantar anak Indonesia memasuki abad
21". KONIKA XII diselenggarakan di Bali pada tanggal 30 Juni - 4 Juli 2002 dengan tema
"Improving professionalism in health science and technology for implementation of the child
right and protection in Indonesia", bersamaan dengan kongres 11th ASEAN Pediatric Federation
Conference (APFC) dengan tema "Improving adolescent health for future human resources".
KONIKA XIII diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 4-7 Juli 2005, dengan
tema: Pendekatan ilmiah kesehatan anak dan pencegahannya dari ilmu dasar ke aplikasi
klinis dan komunitas. KONIKA XIV diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal
5-9 Juli 2008, dengan tema: "Competence-based professionalisme in Pediatrics."
Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak
Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak (PIT IKA) dilaksanakan pertama kali di
Palembang pada tanggal 25-27 Juni 2001. PIT IKA II diselenggarakan di Batam, Kepulauan
Riau pada tanggal 12-14 Juli 2004, denagn tema: "Hot topic in pediatric". PIT IKA III
diselenggarakan di Yogayakarta pada tanggal 5-9 Mei 2007 dengan tema: "Peningkatan
penelitian oleh dokter spesialis anak dari molekuler hingga komunitas dengan
memperhatikan bioetika" dan PIT IKA IV diselenggarakan di Medan pada tanggal 20 -
24 Februari 2010 dengan tema 'The role of pediatricians to achieve MDG's 2015'.
IDAI Cabang
IDAI Cabang dapat dibentuk di propinsi yang sedikitnya mempunyai sepuluh anggota
tetapi pada setiap propinsi hanya boleh dibentuk satu IDAI Cabang. IDAI Cabang mulai
dibentuk pada tahun 1971 di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Ketua IDAI Cabang
Jakarta yang pertama adalah Dr. L.A. Tamaela. Ketua pertama IDAI Cabang Jawa Tengah
adalah Dr. Moeljono S. Trastotenojo, dan IDAI Cabang Jawa Timur dengan ketua yang
pertama Prof. Kwari Satjadibrata.
Di luar Jawa, IDAI Cabang yang pertama terbentuk adalah IDAI Cabang Sumatera (1972)
yang berpusat di Medan, dengan ketua Dr. Sjarikat Tarigan. Selanjutnya pada tahun 1974
dibentuk IDAI Cabang Jawa Barat dan IDAI Cabang D.I. Yogyakarta. Sebagai Ketua IDAI
Cabang Jawa Barat adalah Prof. Sugiri dan IDAI Cabang D.I. Yogyakarta diketuai oleh Dr.
Ismangoen.
Untuk mempermudah koordinasi anggotanya, pada tahun 1978 IDAI Cabang Sumatera
dipecah menjadi IDAI Cabang Sumatera Selatan dan Tengah (Sumselteng) serta IDAI
Cabang Sumatera Utara. IDAI Cabang Sumselteng diketuai oleh Prof. Goepito, sedangkan
IDAI Cabang Sumatera Utara tetap diketuai oleh Dr. Sjarikat Tarigan.
Pada tahun 1979 dibentuk IDAI Cabang Sulawesi Selatan dengan ketua Dr. M. Farid,
sedangkan IDAI Cabang Sulawesi Utara diresmikan pada tahun 1981 dengan ketua Dr.
J.M. Wantania. Pada tahun 1984 IDAI Cabang Sumselteng dipisah menjadi IDAI Cabang
Sumatera Selatan (termasuk Lampung dan Bengkulu) dan IDAI Cabang Sumatera Barat
(termasuk Jambi dan Riau). IDAI Cabang Sumatera Selatan diketuai oleh Dr. Rusdi Ismail,
sedangkan ketua IDAI Cabang Sumatera Barat adalah Dr. Sjamsir Daili. Pada tahun 1987.
IDAI Cabang Bali dibentuk dengan memisahkan diri dari IDAI Cabang Jawa Timur yang
diketuai oleh Dr. Sudaryat Suraatmadja. IDAI Cabang D.I. Aceh diresmikan pada KONIKA
X (1996) di Bukittinggi, dengan ketua pertama Dr. Roestini Yusuf. Pada KONIKA XII di
Bali, diresmikan juga 4 IDAI Cabang yang baru yaitu IDAI Cabang Riau dengan ketua Dr.
Zaimi Zet, IDAI Cabang Lampung dengan ketua Dr. Ruskandi M., IDAI Cabang Banten
dengan ketuanya Dr. Syartil Arfan NZ, dan IDAI Cabang Kalimantan Selatan dengan
ketuanya Dr. Ari Yunanto. IDAI Cabang D.I. Aceh berganti nama menjadi IDAI Cabang
Nangroe Aceh Darussalam.
Pada KONIKA XIII 2005 di Bandung, disahkan terbentuknya IDAI Cabang Kalimantan
Timur dengan ketuanya Dr. Bambang Suasono. Pada saat KONIKA XIV 2008 di Surabaya,
disahkan 3 IDAI cabang baru, yaitu IDAI Cabang Jambi dengan ketuanya Dr. Pandji Prijadi
Budojo, IDAI Cabang Kepulauan Riau dengan ketuanya Dr. Indra Yanti, dan IDAI Cabang
Kalimantan Barat dengan ketuanya Dr. Charles E Hutasoit.
Pada KONIKA X 1996 di Bukittinggi, tercatat IDAI mempunyai 1008 orang anggota yang
tersebar di 12 IDAI Cabang dengan masing-masing anggota yang terdaftar yaitu: IDAI Cabang
D.I. Aceh 12 orang, IDAI Cabang Sumatera Utara 90 orang, IDAI Cabang Sumatara Barat
39 orang, IDAI Cabang Sumatera Selatan 37 orang, IDAI Cabang Jawa Barat 128 orang,
IDAI Cabang DKI Jakarta 305 orang, IDAI Cabang Jawa Tengah 115 orang, IDAI Cabang D.I.
Yogyakarta 36 orang, IDAI Cabang Jawa Timur 155 orang, IDAI Cabang Bali 26 orang, IDAI
Cabang Sulawesi Selatan 40 orang, dan IDAI Cabang Sulawesi Utara 25 orang.
Pada saat KONIKA XI 1999 di Jakarta, IDAI mempunyai 12 cabang dengan jumlah
anggota yang tercatat sebanyak 1200 orang yang tersebar di IDAI Cabang D.I.Aceh 16
orang, IDAI Cabang Sumatera Utara 82 orang, IDAI Cabang Sumatera Barat 58 orang,
IDAI Cabang Sumatera Selatan 58 orang, IDAI Cabang DKI Jakarta 369 orang, IDAI
Cabang Jawa Barat 138 orang, IDAI Cabang Jawa Tengah 133 orang, IDAI Cabang D.I.
Yogyakarta 40 orang, IDAI Cabang Jawa Timur 194 orang, IDAI Cabang Bali 48 orang,
IDAI Cabang Sulawesi Utara 21 orang, dan IDAI Cabang Sulawesi Selatan 43 orang.
Pada saat KONIKA XII 2002 di Nusa Dua, Bali, IDAI mempunyai 16 cabang dengan
jumlah anggota yang tercatat sebanyak 1388 orang yang tersebar di IDAI Cabang D.I.
Aceh 22 orang, IDAI Cabang Sumatera Utara 88 orang, IDAI Cabang Sumatera Barat
56 orang, IDAI Cabang Sumatera Selatan 65 orang, IDAI Cabang DKI Jakarta 405 orang,
IDAI Cabang Jawa Barat 183 orang, IDAI Cabang Jawa Tengah 168 orang, IDAI Cabang
D.I. Yogyakarta 57 orang, IDAI Cabang Jawa Timur 216 orang, IDAI Cabang Bali 36 orang,
IDAI Cabang Sulawesi Utara 30 orang, dan IDAI Cabang Sulawesi Selatan 62 orang.
Pada saat KONIKA XIII 2005 di Bandung, Jawa Barat, IDAI mempunyai 17 cabang dengan
jumlah anggota yang tercatat sebanyak 1711 orang yang tersebar di 17 IDAI Cabang,
yaitu IDAI Cabang D.I. Aceh 12 orang, IDAI Cabang Sumatera Utara 101 orang, IDAI
Cabang Sumatera Barat 36 orang, IDAI Cabang Sumatera Selatan 60 orang, IDAI Cabang
DKI Jakarta 490 orang, IDAI Cabang Jawa Barat 201 orang, IDAI Cabang Jawa Tengah
160 orang, IDAI Cabang D.I. Yogyakarta 71 orang, IDAI Cabang Jawa Timur 229 orang,
IDAI Cabang Bali 72 orang, IDAI Cabang Sulawesi Utara 42 orang, dan IDAI Cabang
Sulawesi Selatan 72 orang, IDAI Cabang Riau 44 orang, IDAI Cabang Lampung 21 orang,
IDAI Cabang Banten 20 orang, IDAI Cabang Kalimantan Selatan 34 orang, dan IDAI
Cabang Kalimantan Timur 34 orang.
Pada saat KONIKA XIV 2008 di Surabaya, Jawa Timur, disahkan 3 IDAI cabang yang
baru, sehingga pada KONIKA XIV 2008 di Surabaya, IDAI mempunyai 20 cabang dengan
jumlah anggota yang tercatat sebanyak 2305 orang yang tersebar di 20 IDAI Cabang,
yaitu IDAI Cabang D.I. Aceh 33 orang, IDAI Cabang Sumatera Utara 127 orang, IDAI
Cabang Sumatera Barat 46 orang, IDAI Cabang Sumatera Selatan 89 orang, IDAI Cabang
DKI Jakarta 620 orang, IDAI Cabang Jawa Barat 302 orang, IDAI Cabang Jawa Tengah 221
orang, IDAI Cabang D.I. Yogyakarta 102 orang, IDAI Cabang Jawa Timur 268 orang, IDAI
Cabang Bali 102 orang, IDAI Cabang Sulawesi Utara 61 orang, IDAI Cabang Sulawesi
Selatan 101 orang, IDAI Cabang Riau 44 orang, IDAI Cabang Lampung 25 orang, IDAI
Cabang Banten 49 orang, IDAI Cabang Kalimantan Selatan 36 orang, IDAI Cabang
Kalimantan Timur 36 orang, IDAI Cabang Kepulauan Riau 18 orang, IDAI Cabang Jambi
12 orang, dan IDAI Cabang Kalimantan Barat 13 orang.
Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia
Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia (Kolegium IKAI) adalah badan eksekutif
IDAI yang bertugas untuk mengemban tujuan IDAI dalam bidang pendidikan. Cikal
bakal Kolegium IKAI dimulai pada saat KONIKA III di Surabaya (1974) dengan nama
Dewan Penilai Keahlian (DPK), diketuai oleh Prof. Kwari Satjadibrata (1974-1978) dan
sekretaris Dr. IGN. Gde Ranuh. Dalam KONIKA IV 1978 di Yogyakarta, DPK berganti
nama menjadi MPKK (Majelis Pembina dan Penilai Keahlian) dengan ketua Dr. IGN.
Ranuh (1978 –1984). Pada tahun 1981 MPPK diubah menjadi MPPKKA (Majelis Pembina
dan Penilai Keahlian Kesehatan Anak) dengan ketua pengurus harian Prof.DR. Iskandar
Wahidiyat (1984-1990) dan sejak tahun 1990 MPPKKA diubah menjadi MPPDS (Majelis
Pembina dan Penilai Dokter Spesialis) dengan ketua Prof. Sofyan Ismael (1993-1999).
Nama dan organisasi MPPDS resmi diubah (ditransformasi) menjadi Kolegium IKAI
pada KONIKA-XI, 1999 di Jakarta dengan ketuanya Prof. Dr. Asril Aminullah. Kolegium
IKAI terdiri dari ketua Departemen/Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Negeri, Ketua Program Studi Institusi Pendidikan Dokter Spesialis Anak (IPDSA), wakil
guru besar, dan 4-5 orang dokter spesialis anak konsultan pakar pendidikan yang ditunjuk
oleh Ketua Kolegium IKAI. Ketua Kolegium IKAI dikukuhkan oleh sidang organisasi
Kongres Ilmu Kesehatan Anak. Pada tahun 2005 pada saat KONIKA XIII di Bandung,
Dr. Arwin. A.P. Akib, Sp.A(K) terpilih sebagai ketua Kolegium IKAI periode 2005-2008.
Pada tahun 2008 pada saat KONIKA XIV di Surabaya, Dr. Bambang Supriyatno, Sp.A(K)
ditetapkan sebagai ketua Kolegium IKAI periode 2008-2011.
Kolegium IKAI berperan aktif dalam menyusun, menetapkan, menilai, dan menyempurnakan
kurikulum, persyaratan dasar pengembangan pendidikan serta mengevaluasi pendidikan
dokter spesialis I dan II Ilmu Kesehatan Anak (IKA) di tingkat nasional. Selain itu
Kolegium IKAI memberikan rekomendasi kepada pemerintah agar IPDSA dapat diakui
atas dasar penilaian Kolegium IKAI, menetapkan persyaratan penilaian keahlian melalui
komite penguji nasional, pengakuan dan penerimaan lulusan pendidikan dokter spesialis
I dan II Ilmu Kesehatan Anak, menilai program adaptasi dokter spesialis anak lulusan
luar negeri, administrasi ijazah untuk didaftarkan pada Majelis Dokter Spesialis IDI serta
menilai dan membina kemampuan serta pengamalan anggota IDAI dalam hal keahlian
ilmu kesehatan anak.
Kurikulum pendidikan dokter spesialis anak pertama kali disusun dan diresmikan pada
tahun 1976, kemudian disempurnakan pada tahun 1978 dan 1990. Hasil karya MPPDS
antara lain buku panduan (petunjuk pelaksanaan kurikulum 1990), kriteria pengakuan
dan jalur pengukuhan dokter spesialis anak dan dokter spesialis anak konsultan, evaluasi
nasional, badan penguji nasional dan komisi penguji nasional, buku ajar dokter spesialis
anak, prosedur baku pelayanan ilmu kesehatan anak, Institusi Pendidikan Dokter Spesialis
Anak Konsultan, pendidikan kedokteran berkelanjutan, Buku 60 tahun Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Indonesia, dan pengembangan Pusat Unggulan.
Susunan Kolegium IKAI terdiri dari : (1) Sidang Pleno Kolegium IKAI, (2) Pengurus
Nasional Kolegium IKAI, (3) Pengurus Harian Kolegium IKAI, (4) Komisi-komisi sebagai
badan pelengkap Kolegium IKAI (Komisi Kurikulum, Komisi Evaluasi, Komisi Akreditasi,
Komisi Pengembangan dan Pembinaan). Selain komisi, dapat juga dibentuk subkomisi
sesuai dengan keperluan
Unit Kerja Koordinasi
Unit Kerja Koordinasi (UKK) adalah badan pelengkap IDAI untuk membina dan
mengembangkan subspesialisasi ilmu kesehatan anak, memberikan saran dan petunjuk
kepada Pengurus Pusat IDAI dalam kegiatan ilmiah sesuai bidangnya, serta berperan
sebagai nara sumber dalam pertemuan ilmiah nasional, regional, maupun internasional.
Sebelum ada UKK, beberapa cabang ilmu kesehatan anak membentuk pelbagai badan
kerjasama, antara lain Badan Kerjasama Gastroenterologi Anak Indonesia (BKGAI), Badan
Kerjasama Neonatologi Indonesia (BKNI), Badan Kerjasama Nefrologi Anak Indonesia
(BKNAI), dan Badan Kerjasama Pulmonologi Anak Indonesia (BKPAI). Pimpinan dan
para penasehat IDAI waktu itu mengkhawatirkan perkembangan tersebut justru akan
melemahkan IDAI dan mengganggu jalannya pelbagai program IDAI.
Untuk itu pada KONIKA-IV 1978 di Yogyakarta disepakati agar setiap subdisiplin dalam
ilmu kesehatan anak, membentuk wadah di dalam IDAI yang disebut sebagai Unit Kerja
Koordinasi (UKK). Badan kerjasama kemudian dibubarkan dan diubah menjadi UKK,
kecuali BKGAI yang bersifat multidisipliner. Keputusan ini terbukti sangat tepat, sehingga
sampai sekarang ini perkembangan subdisiplin ilmu kesehatan anak tetap kukuh bersatu
tidak terpecah belah.
Pada KONIKA-IV (Yogyakarta 1978) disahkan berdirinya UKK Gastroenterologi, UKK
Neonatologi, UKK Pediatri Sosial, UKK Pulmonologi, dan UKK Nefrologi. Pada KONIKA
V (Medan 1981) disahkan UKK Neurologi, UKK Hematologi, UKK Gizi, dan UKK
Kardiologi. Pada KONIKA VI (Denpasar 1984) disahkan UKK Pediatri Gawat Darurat,
UKK Infeksi dan Penyakit Tropis, sedangkan dalam KONIKA VII (Jakarta 1987) tidak ada
pembentukan UKK baru. Pada KONIKA VIII (Ujungpandang 1990) disahkan berdirinya
UKK Endokrinologi, UKK Pencitraan, dan UKK Alergi Imunologi.
Selama periode 1987 – 1990 kegiatan UKK difokuskan untuk penyempurnaan
katalog Pendidikan Dokter Spesialis Anak 1978 dan pelaksanaan penelitian multisenter.
Selain itu beberapa UKK telah pula membuat kurikulum dokter spesialis anak konsultan dan
sekolah dokter spesialis anak konsultan yang dianggap sebagai jenjang tertinggi dalam
profesi ilmu kesehatan Anak, yang mulai dikembangkan di dalam Rapat Kerja IDAI 1982
di Bukittinggi.
Sampai tahun 1997 Pengurus Pusat IDAI mempunyai 14 UKK yaitu: Gastrohepatologi,
Neonatologi, Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Pulmonologi, Nefrologi, Neurologi,
Hematologi, Gizi, Kardiologi, Pediatri Gawat Darurat, Infeksi & Penyakit Tropis,
Endokrinologi, Pencitraan, dan Alergi Imunologi.
Pada Rapat Kerja IDAI tanggal 17-20 Oktober 20002 di Hotel Shangrila Jakarta, telah
ditetapkan perubahan nama UKK Hematologi menjadi UKK Hematologi Onkologi
dan UKK Gizi menjadi UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Pada KONIKA XIII 2005
Bandung, UKK Pulmonologi berganti nama menjadi UKK Respirologi. Sampai dengan
KONIKA XIII 2005, IDAI mempunyai 14 UKK.
Satuan Tugas (Satgas)
Satgas mempunyai kegiatan diluar lingkup UKK yang melibatkan lebih dari 1 UKK
- Satgas Imunisasi
- Satgas HIV
- Satgas Farmasi Pediatrik
- Satgas Anemia Defisiensi Besi
- Satgas Bencana dan Keadaan Luar Biasa
- Satgas Penelitian dan Pengembangan Sumber Data Manusia
- Satgas ASI
- Satgas Perlindungan Anak
- Satgas Remaja
Komite Continuing Profesional Development (CPD)
Komite CPD bertugas melaksanakan dan menyusun kegiatan CPD, menetapkan nilai akreditasi, dan
tata cara pemberian angka kredit profesi.
Badan Pertimbangan Pengurus Pusat (BP3)
BP3 membantu tugas serta memberikan saran dan pertimbangan kepada Pengurus Pusat IDAI.
Badan Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BP2A)
BP2A bertugas melakukan pembinaan, bimbingan hukum dan kode etik kedokteran, serta pembelaan
terhadap anggota yang mempunyai masalah yang berkaitan dengan profesi kedokteran.
Badan Penerbit
Badan Penerbit IDAI adalah badan pelengkap yang bertugas melaksanakan semua
penerbitan IDAI, bersama Kolegium IKAI dan IDAI Cabang memotivasi dan membantu
anggota IDAI untuk meningkatkan penulisan ilmiah, serta mengadakan kerjasama, tukar
menukar majalah dengan penerbitan dalam dan luar negeri.
Penerbitan di kalangan IDAI dimulai tahun 1960 berjudul Berita Anak, dengan redaktur
Prof. Te Bek Siang dibantu Dr. Samsudin, yang sempat terbit 3 kali. Sejak tahun 1961
terbit jurnal Ilmu Kesehatan Anak, Paediatrica Indonesiana yang berbahasa Inggris,
dengan pemimpin redaksi Prof. Sutedjo sampai tahun 1975, yang terbit 6 kali setahun
sampai sekarang.
Sejak KONIKA III 1974 di Surabaya, dibentuk Majelis Majalah (diketuai Dr. Samsudin)
yang membawahi penerbitan di dalam IDAI. Pada KONIKA VIII 1990 (di Ujung Pandang),
Majelis Majalah diubah menjadi Badan Penerbit IDAI sampai sekarang. Badan penerbit
menerbitkan 3 majalah IDAI yaitu Paediatrica Indonesiana, Sari Pediatri, dan Buletin
IDAI. Paediatrica Indonesiana diterbitkan pertama kali pada tahun 1974. Pada Januari
1994 diterbitkan Sari Pediatri yang berbahasa Indonesia, terbit 4 kali setahun, untuk
menyebarluaskan teori, konsep, serta kemajuan di bidang pediatri kepada dokter spesialis
anak dan dokter umum di seluruh Indonesia. Buletin IDAI terbit sejak tahun 1998,
sebagai media komunikasi dan informasi antar anggota IDAI yang berisi berita organisasi,
tentang anggota, artikel ilmiah ringan dan artikel lain yang berhubungan dengan IDAI dan
kesehatan anak.
Logo dan Himne
Logo IDAI disahkan dalam KONIKA VII di Jakarta pada tahun 1987. Gambar utama
logo berupa kuncup bunga yang sedang mekar berwarna hijau, yang melambangkan
kesuburan dan harapan agar anak dapat bertumbuh serta berkembang dengan baik.
Gambar kedua adalah gambar ular yang melilit tongkat dengan dasar yang berwarna
kuning, lambang kemuliaan, yang mencerminkan ilmu dan teknologi kedokteran sebagai
salah satu unsur utama ilmu kesehatan anak. Untaian kata Ikatan Dokter Anak Indonesia,
yakni nama organisasi yang merupakan wadah tunggal bagi dokter spesialis anak di
Indonesia. Bersamaan dengan peresmian logo tersebut, diresmikan pula himne IDAI
ciptaan N. Simanungkalit.
Penghargaan IDAI
IDAI memberikan 5 jenis penghargaan kepada dokter spesialis anak yang berprestasi
dalam bidang kesehatan anak. Penghargaan R. Sutedjo diberikan kepada anggota IDAI
yang prestasi kemasyarakatannya menonjol dalam bidang kesehatan anak. Penghargaan R.
Kwari Satjadibrata untuk anggota IDAI yang prestasi keilmuannya menonjol. Penghargaan
A.H. Markum untuk anggota IDAI yang penulisan ilmiahnya mencapai prestasi tinggi.
Penghargaan Mas Hidayat untuk lembaga atau perorangan bukan dokter spesialis anak
yang berprestasi/berjasa dalam kesehatan anak, sedangkan penghargaan kehormatan
IDAI diberikan kepada anggota IDAI yang telah berjasa mengembangkan organisasi IDAI.
Selain itu, pada keadaan tertentu misalnya bencana alam, diberikan juga penghargaan
khusus bagi anggota IDAI yang memberikan sumbangan luar biasa.
|