Perlukah Suplemen Vitamin D?


Vitamin D adalah vitamin larut lemak yang berperan penting dalam metabolisme tulang, pengaturan sistem imun, dan anti peradangan. Vitamin D dapat diperoleh secara alami dari sinar matahari dan sumber makanan. Jika mendapat paparan sinar matahari yang cukup, manusia juga perlu vitamin D dari makanan. Kadar vitamin D yang cukup dalam tubuh dapat memelihara kesehatan tulang, meningkatkan ketahanan tubuh, dan menurunkan risiko penyakit autoimun & keganasan.

Kekurangan vitamin D yang berat, terutama pada anak, dapat menyebabkan penyakit riketsia nutrisional. Riketsia umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan – 2,5 tahun, dengan gejala seperti kelemahan otot, keterlambatan perkembangan gerak motorik, pembesaran area pergelangan tangan dan lutut, tungkai berbentuk O, gangguan bentuk kepala, keterlambatan pertumbuhan gigi, penurunan kepadatan tulang, dan infeksi.

Menurut survei di Indonesia, 43% anak perkotaan dan 44% anak pedesaan mengalami defisiensi vitamin D (kadar vitamin D darah < 30 nmol/L). Faktor risiko yang berperan dalam terjadinya defisiensi vitamin D antara lain (1) kurangnya paparan sinar matahari, (2) asupan makanan yang sedikit mengandung vitamin D, dan (3) dan pemberian ASI berkepanjangan tanpa suplementasi vitamin D. Skrining kadar vitamin D pada darah tidak disarankan untuk anak sehat yang tidak bergejala, namun dapat dipertimbangkan pada anak yang berisiko tinggi atau bergejala.

Kurangnya paparan sinar matahari dapat berupa gaya hidup anak yang sebagian besar berada dalam gedung, kebiasaan menjemur bayi atau anak di pagi hari, dan penggunaan tabir surya. Waktu yang dianjurkan untuk mendapatkan paparan sinar matahari langsung adalah pukul 10.00 sampai 15.00. Sinar matahari yang mengandung ultraviolet A berfungsi mengubah provitamin D di kulit menjadi vitamin D. Orang berkulit gelap memerlukan paparan sinar matahari yang lebih tinggi dibanding orang berkulit putih.

Menurut penelitian, anak Indonesia hanya mengonsumsi sedikit makanan yang kaya vitamin D. Telur yang kerap dikonsumsi ternyata hanya mengandung sedikit vitamin D. Makanan – makanan yang tinggi vitamin D seperti ikan tuna, sarden, mackerel, dan keju jarang dikonsumsi oleh anak Indonesia. Di sisi lain, adanya anjuran pantang susu sapi pada alergi susu sapi, rendahnya ketersediaan makanan yang difortifikasi vitamin D, dan kurangnya asupan makanan yang mengandung lemak turut berperan dalam rendahnya kadar vitamin D di darah. Selain itu, ASI ternyata mengandung vitamin D dalam kadar yang rendah, sehingga pemberian ASI saja belum dapat mencukupi kebutuhan vitamin D harian pada anak.

Masalah defisiensi vitamin D merupakan masalah yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, namun kesadaran masyarakat masih tergolong rendah. Beberapa hal yang dianjurkan untuk mengurangi angka defisiensi vitamin D antara lain:

-Meningkatkan konsumsi makanan yang kaya vitamin D, yaitu ikan salmon, tuna, mackerel, keju, minyak ikan, jamur shiitake, dan sereal.

-Mendorong anak untuk lebih banyak bermain di luar serta menjemur bayi pada jam 10.00 – 15.00.

-Suplementasi vitamin D untuk bayi 0 – 12 bulan sebanyak 400 IU per hari, tanpa memandang jenis makanannya (ASI eksklusif atau tidak).

-Suplementasi vitamin D untuk anak >12 bulan, sebanyak 600 IU per hari, tanpa memandang jenis makanannya.

-Anak dengan riwayat defisiensi vitamin D yang disertai gejala harus diberikan suplementasi.

-Wanita hamil dan menyusui perlu mengkonsumsi vitamin D 600 IU per hari.

 

Penulis: dr. Natharina Yolanda

Reviewer: DR. Dr. Aman B. Pulungan, SpA(K)

Artikel berdasarkan presentasi DR. Dr. Aman B. Pulungan, SpA(K) dan dr. Endy P. Prawirohartono, MPH, SpA(K) pada acara Symposium A New Concept in Pediatric Clinical Practice di Jakarta, 14 – 15 Februari 2016. 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.