Pentingnya ASI Untuk Bayi Prematur

Seorang bayi dikatakan prematur apabila bayi lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Masalah utama dari kelahiran dininya ini ialah belum matang atau imaturitasnya dari seluruh sistem organ tubuhnya, sehingga umumnya setelah lahir sang bayi prematur akan dirawat di ruang intensif khusus bayi baru lahir (neonatal intensive care unit-NICU). Selama perawatan di NICU, selain bayi prematur distabilkan keadaan gawat daruratnya, untuk menjaga proses tumbuh kembangnya tetap berjalan, bayi juga dikondisikan sebagaimana ia ketika masih di dalam Rahim sang ibu.

 

Masalah medis terkait imaturitas seluruh sistem organ bayi prematur akan dirawat oleh tim unit neonatal yang terdiri dari para dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain yang bekerja di bidang neonatal. Proses perawatan ini dimulai dengan proses resusitasi, yakni dari 30 detik pertama pasca-lahir, sang bayi prematur distabilkan kemampuan bernapasnya dengan alat bantu napas mulai dari yang non-invasif hingga invasif. Setelah proses resusitasi, perawatan bayi prematur akan dilanjutkan di ruang NICU. Terlahirnya prematur membuat bayi kehilangan kesempatan mendapatkan dukungan nutrisi, oksigen, stimulasi, kekebalan, dan kehangatan dari ibunya lebih lama. Oleh karena itu, beberapa komponen tersebut harus terjaga dengan baik selama perawatan di NICU.  Walaupun ibu harus terpisah dan tidak dapat memberikan dukungan hal tadi, namun ibu tetap dapat memberikan ASI untuk bayi prematurnya.

 

ASI ialah nutrisi terbaik untuk semua bayi, terlebih bagi bayi prematur. ASI tidak hanya menjadi sumber nutrisi namun juga sumber faktor kekebalan tubuh dan pertumbuhan bagi bayi prematur. Namun demikian, tidak semua bayi prematur dapat langsung menghisap ASI dari ibunya, terlebih jika bayi belum stabil. Proses menyusui membutuhkan refleks menghisap, menelan, serta bernapas yang berkordinasi dengan baik. Bayi prematur yang lahir dengan usia kehamilan lebih dari 36 minggu, yang sudah memiliki refleks tersebut dengan baik. Untuk bayi prematur yang lebih muda, selain koordinasi refleks menghisap-menelannya belum berkembang sempurna, kemampuan mencerna sistem saluran cernanya pun demikian. Untuk itu sangat dibutuhkan dukungan semua pihak terkait perawatan sang bayi prematur, terlebih dukungan nutrisinya. Strategi pemberian ASI agar dapat diupayakan secara optimal, harus disusun dan dilaksanakan, karena ASI sudah tidak diragukan lagi superioritasnya dalam segala hal. Tidak hanya nilai nutrisinya, tetapi kandungan antibodi yang penting untuk mencegah dan melawan infeksi.

 

Strategi yang dilaksanakan saat sang bayi prematur mulai stabil sistem napas dan sirkulasi darahnya adalah dengan memberikan ASI sedini mungkin. Pada fase ini pemberian ASI belum untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuhnya, melainkan bertujuan untuk merangsang fungsi ususnya yang masih prematur. ASI merupakan satu-satunya pilihan yang paling aman, karena nutrisi selain ASI akan meningkatkan risiko terjadinya gangguan usus yang disebut sebagai entero kolitis nekrotikans (EKN) yang amat fatal. Pemberian ASI secara dini tidak memerlukan jumlah yang banyak, yakni dimulai dari 10 mL per kg berat badan per hari, kemudian ditingkatkan sesuai toleransinya sampai mencapai 25 mL per kg berat badan per hari. Setelah mencapai volume tersebut, apabila toleransinya baik, baru ASI diberikan untuk kebutuhan nutrisi secara bertahap hingga mencapai volume sekitar 150 mL per kg berat badan.

 

Dukungan untuk ibu merupakan kunci utama keberhasilan pemberian ASI pada bayi prematur. Prinsip pertama ialah memompa ASI denga benar, rutin, dan konsisten. Mulai dari tetes awal keluarnya ASI yang disebut kolostrum sampai tetes demi tetes selanjutnya. Kesabaran ibu untuk memerah ASInya merupakan modal utama. Cara memerah atau memompa ASI yang benar akan menciptakan pasokan ASI yang cukup, semakin sering dipompa dengan benar maka akan menghasilkan produksi yang banyak pula. Pompalah ASI setiap 2 – 2,5 jam sehari, di luar jam istirahat atau tidur ibu sekitar 4 – 5 jam sehari. Upayakan memompa konsisten sehari 6 – 8 kali, dengan lamanya memompa sekitar 100 menit. Prinsip kedua ialah ibu harus sepenuhnya ikhlas menerima kelahiran bayinya secara prematur, hindari rasa stres yang mengganggu, tanamkan rasa optimis, percaya diri bahwa tim berusaha keras untuk menolong sang bayi, dan ibu merupakan bagian dari tim tersebut. Tentunya dalam menjalani hal ini dibutuhkan dukungan keluarga terutama sang suami.  Sangat dianjurkan para ibu untuk berkonsultasi dengan konselor laktasi di rumah sakit tempat ibu melahirkan bayinya. Semoga keberadaan ibu dalam tim yang merawat sang bayi prematur merupakan bagian dari kunci sukses perawatan sang bayi prematur sehingga tercapai pertumbuhan dan perkembangan bayi seperti yang dialami saat dalam kandungan….sukses selalu untuk ibu-ibu yang melahirkan bayi prematur.

 

Penulis:
DR. Dr. Toto Wisnu Hendrarto, Sp.A(K), DTM&H

Reviewer:
Prof. DR. Dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K)

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.


Download ke PDF