Tinja Bayi: Normal atau Tidak? (Bagian 2)

 

DIARE umumnya terjadi karena infeksi kuman. Kuman yang paling sering menyerang saluran cerna anak ialah rotavirus, ada pula seperti E.coli dan Salmonella. Pada sebagian besar diare pada anak, biasanya sembuh sendiri tanpa obat. Yang perlu dipantau ialah komplikasinya berupa kekurangan cairan tubub atau dehidrasi. Dehidrasi merupakan penyebab kematian pada diare. Oleh karena itu, pencegahan terhadap dehidrasi merupakan upaya pengobatan diare yang utama, yaitu dengan memberikan oralit sedini mungkin di rumah pada anak diare. Caranya mudah saja, berikanlah larutan oralit sebanyak 10 cc per kilogram berat anak setiap kali mencret, segera setelah anak menderita diare.Misalnya, pada anak berusia 1 tahun dengan berat badan 10 kilogram, berikanlah 100 cc(7 sendok makan)oralit setiap kali mencret. Berikan oralit dengan sendok, sedikit demi sedikit. Penelitian menunjukkan sebagian besar anak dengan diare dapat disembuhkan hanya dengan pemberian larutan oralit, tanpa obat lain.

 

 

Bila diare berlanjut, akan terjadi gangguan keasaman darah (asidosis) yang menyebabkan anak muntah. Bila demikian, pemberian oralit sulit dilakukan. Orang tua akan kaget dan khawatir bila anaknya buang air besar disertai darah. darah dalam tinja bisa dalam berbagai bentuk. Pertama, bila mencret disertai lendir dan darah disebut sebagai disentri. Hal ini biasanya disebabkan infeksi bakteri.Anak mengalami demam, rewel, dan mengeluh nyeri waktu buang air besar. Kedua, tinja berwarna hitam. Warna hitam bisa berasal dari darah yang diolah oleh kuman. Biasanya perdarahan berasal dari saluran cerna bagian atas, seperti lambung atau kerongkongan, misalnya perdarahan akibat penyakit mag. Ketiga, darah segar bisa terdapat dalam tinja. Darah biasanya berasal dari daerah usus sekitar anus. Misalnya perdarahan pada polip usus atau perlukaan pada anus akibat sembelit. Keempat, sering bayi, terutama di bawah usia 6 bulan mengalami berak darah, padahal bayi terlihat sehat dan lincah.Kasus ini bukan disentri akibat infeksi bakteri, terutama akibat alergi susu sapi. Pada kasus terdapatnya darah dalam tinja, anak harus dibawa ke dokter untuk mengetahui penyebabnya dan sekaligus pengobatannya.

Bila tinja keras, bentuknya bulat, seperti tahi kambing, disebut sembelit, atau konstipasi. Penyebabnya macam- macam, di antaranya kebanyakan minum susu, kurang minum air putih, kurang asupan serat dari sayuran dan buah, atau efek samping obat. Bawalah ke dokter, karena sembelit yang masih dini dapat mudah diobati. Tetapi sembelit yang kronis sangat sulit diobati karena sudah ada pengaruhnya terhadap psikologis anak.

Warna tinja juga perlu diperhatikan. Warna tinja yang normal ialah kuning sampai hijau.  Warna dempul dapat terjadi pada penyakit hati. Warna kemerahan atau kehitaman, awas ada darah. Warna seperti cucian air beras terlihat pada penderita muntah berak atau kolera. Kadang terlihat butir kekuningan yang mengambang pada tinja yang cair; ini menunjukkan adanya lemak makanan yang tidak dicerna. Pada tinja yang mengandung lemak, biasanya sulit membersihkannya dari toilet, karena biasanya menempel erat pada dinding toilet.

Demikian juga, bau tinja perlu diperhatikan. Bau asam menunjukkan adanya gangguan pencernaan, bau busuk karena infeksi. Bau tinja mencerminkan adanya  kerjasama antara sisa makanan dan jenis bakteri yang di dalam usus. Oleh karena itu,  amatilah tinja anak Anda karena penampakan tinja bisa mendeteksi dini adaya penyakit.(*)

 

Klik di sini untuk melihat bagian 1

 

Penulis: Agus Firmansyah

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Artikel pernah dimuat di kompas, kolom klasika, tanggal 14 Juli 2013

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.


Download ke PDF