Arahan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri
|
- Semua anggota IDAI dihimbau untuk waspada kemungkinan adanya kasus difteri di tempat bekerja masing-masing. Pemeriksaan pasien seyogyanya dilakukan selengkap mungkin termasuk pemeriksaan swab tenggorok, walaupun tidak ada keluhan khusus.
- Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan biakan spesimen positif C. diphtheriae (lakukan swab tenggorok sebelum pemberian antibiotik) pada media Loeffler. Alur diagnosis dan tata laksana difteri mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh IDAI. Konsultasi dapat dilakukan kepada perwakilan UKK Infeksi dan Penyakit Tropis di wilayah masing-masing (terlampir).
- Apabila sejawat menemukan kasus difteri, maka perlu dilakukan langkah sebagai berikut:
- Melapor dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk identifikasi kontak erat dan surveilans.
- Melaporkan ke IDAI Cabang setempat. Mohon laporkan usia, status imunisasi, status infeksi difteri (suspek/probable/konfirmasi), alamat tempat tinggal.
- Proaktif menemukan kasus lain disekitarnya (rumah, sekolah, tempat penitipan anak, pondok pesantren, asrama)
- Meminta semua orang yang kontak dengan pasien untuk datang ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan swab tenggorok, melengkapi imunisasi dan pemberian antibiotik profilaksis (lihat pedoman IDAI terlampir).
- Tata laksana pasien difteri melibatkan multidisiplin lain, misalnya dokter spesialis THT.
- Dokter spesialis anak anggota IDAI diwajibkan mengadvokasi masyarakat dan perangkat pemerintahan setempat mengenai pentingnya melengkapi imunisasi DPT/DT/Td pada setiap kelompok usia dari anak sampai dewasa.
- Semua anggota IDAI dan seluruh anggota keluarga wajib melengkapi imunisasi DPT/DT/Td.
- Semua anggota IDAI diwajibkan mengikuti kegiatan CPD Online dengan topik “Difteri” hari Rabu, 6 Desember 2017.
Diagnosis dan tata laksana difteri dapat diunduh disini.....
|