Tepatkah madu diberikan pada bayi?


Madu adalah cairan manis berupa sirup yang mengandung karbohidrat, asam amino bebas, vitamin, dan flavonoid.1 Masyarakat kita seringkali mengonsumsi madu baik sebagai obat herbal tradisional bagi kesehatan tubuh, dan juga sebagai pemanis makanan dan minuman ringan seperti kue dan jus. Salah satu manfaat madu bagi kesehatan tubuh adalah sebagai antioksidan.1 Namun kapankah waktu yang tepat memberikan madu untuk si kecil?

 

Banyak orangtua memberikan madu pada bayi mereka dengan harapan dapat meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindarkan dari penyakit. Madu antara lain digunakan sebagai obat herbal tradisional untuk meredakan gejala batuk dan sulit tidur pada anak dengan infeksi saluran napas atas.1,2 Namun demikian, tidak semua orangtua mengetahui risiko pemberian madu pada bayi dibawah usia 12 bulan.1

Konsumsi madu pada bayi berusia kurang dari 12 bulan dapat meningkatkan risiko infant botulism (penyakit botulisme pada bayi).3,4,6 Infant botulism terjadi akibat toksin yang diproduksi oleh kuman Clostridium botulinum.3,4,6 Clostridium botulinum adalah bakteri gram positif bersifat anaerob yang dapat ditemukan di dalam tanah yang dapat terbawa oleh udara. Spora Clostridium botulinum dapat ditemukan juga pada madu, suatu hal yang sudah terbukti secara mikrobiologis dan epidemiologis.3,6 Sebanyak 95% kasus infant botulism terjadi pada bayi berusia 6 minggu hingga 6 bulan.3

Bayi yang menelan spora Clostridium botulinum berisiko mengalami infant botulism karena masih belum lengkapnya flora normal pada usus bayi sehingga belum dapat berkompetisi dengan spora yang masuk ke saluran cerna. Perbedaan pH pada saluran cerna memungkinkan pertumbuhan spora Clostridium botulinum yang masuk ke saluran cerna.3,6 Spora akan bergerminasi atau bertunas dan berkolonisasi di usus besar dan akan mulai memproduksi toksin botulinum yang menyebabkan penyakit.3,4 Pada anak besar atau orang dewasa, madu jarang menyebabkan masalah kesehatan karena flora normal usus dapat bersaing dengan spora yang masuk ke saluran cerna sehingga tidak timbul penyakit.3,6

Toksin botulinum yang masuk ke saluran cerna bayi akan menyerang sistem saraf bayi, dan menyebabkan kelemahan otot atau hipotonia. Ini terjadi karena toksin botulinum akan berikatan dengan reseptor sehingga menghambat pelepasan asetilkolin (zat kimia penghantar rangsang saraf) yang berakibat terhambatnya hantaran saraf, tidak hanya di saluran cerna, namun juga diseluruh tubuh.3,4 Gejala yang tampak pada bayi yang mengalami infant botulism antara lain lesu, lemas, sesak napas, malas menyusu, sulit menelan, sembelit, sulit membuka mata, dan mulut kering.Infant botulism dapat menyebabkan kematian karena kelemahan otot napas.

Untuk meminimalkan risiko infant botulism, tidak disarankan memberikan madu pada bayi berusia kurang dari 12 bulan.3-6 Sebagai alternatif pemanis alamiah bagi bayi yang sudah mendapat makanan pendamping ASI (usia 6 bulan ke atas) dapat diberikan sari buah.

 

Daftar Pustaka

  1. Ahmed N, Sutcliffe A, Tipper C. Feasibility study: honey for treatment of cough in children. Pediatric Reports 2013; 5:e8.
  2. Cohen H A, Rozen J, Kristal H, Laks Y, et al. Effect of honey on nocturnal cought and sleep quality: adouble-blind, randomized, placebo-controlled study. 2012; 130:e465-471.
  3. Benjamins L J, Gourishankar A, Marquez V Y, Cardona H E, et al. Honey pacifier use among an indigent pediatric population. 2013; 131:e1838-41.
  4. Abdulla C O, Ayubi A, Zulfiquer F, Santhanam G, et al. Infant botulism following honey ingestion. BMJ case reports. 2012; doi:10.1136/bcr.11.2011.5153.
  5. Sastroasmoro Sudigdo. Membina tumbuh kembang bayi dan balita; makanan tambahan. Jakarta: Badan penerbit ikatandokter anak indonesia; 2007.Hal115-124.
  6. Brook I. Infant Botulism. Journal of perinatology. 2007; 175-180.

 

Penulis: Dr. Devina Angela

Reviewer: Dr. TitisPrawitasari, Sp.A(K) dan Dr. Amanda Soebadi, Sp.A

Ikatan Dokter Anak Indonesia

 

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.