Toilet Training


Kemampuan anak untuk buang air sendiri di toilet merupakan salah satu tahap perkembangan yang penting menuju kemandirian. Membantu anak dalam toilet training kadang-kadang menjadi tantangan bagi orangtua dan pengasuh. Keberhasilannya diukur dari seberapa jauh anak mengerti penggunaan toilet untuk buang air, bukan dari kemahiran penguasaan proses belajarnya. Caranya bisa bermacam-macam. Kuncinya adalah kepekaan untuk mengenali isyarat dan kesiapan anak untuk belajar, konsistensi, serta tidak dipaksakan.

Tidak ada usia yang pasti untuk memulai toilet training pada seorang anak. Kesiapannya dilihat dari kematangan fisik dan psikologis yang secara umum timbul sekitar usia 18 bulan sampai 2,5 tahun.

toilet training

 

Beberapa tanda ia sudah siap belajar antara lain:

  1. Ia mampu menirukan Anda dan menunjukkan rasa tertarik untuk belajar, misalnya mengikuti Anda ke kamar mandi.
  2. Ia mampu mengembalikan benda-benda ke tempatnya, baik diminta ataupun tidak.
  3. Ia mampu menunjukkan tanda kemandirian dengan berkata tidak.
  4. Ia sudah mampu berjalan dan duduk dengan baik.
  5. Ia mampu menyampaikan rasa ingin buang air (kecil atau besar).
  6. Ia mampu melepas dan mengenakan pakaiannya.

 

Melaksanakan Toilet Training

Pelaksanaan toilet training yang konsisten memerlukan perencanaan yang juga disepakati seluruh pihak yang terlibat dalam pengasuhan anak, seperti anggota keluarga besar atau petugas tempat penitipan anak. Penting untuk memperhatikan bagaimana perilaku dan temperamen anak, waktu dalam sehari yang kira-kira tepat untuk mulai berkenalan dengan penggunaan toilet, serta dukungan yang ia perlukan setiap saat. Dokter Anda dapat membantu menentukan kesiapan anak serta rencana pendekatan yang akan dilakukan.

Tahap toilet training meliputi penyampaian maksud buang air, melepas pakaian atau celana, buang air di toilet, membersihkan bagian tubuh sekitar tempat buang air, mengenakan pakaian kembali, menyiram toilet, dan mencuci tangan. Buatlah pengalaman belajar ini sebagai kegiatan yang bersifat alami dalam hidup sehari-hari. Dorong rasa percaya diri anak bahwa ia mampu melakukannya sendiri. Berikan pujian apabila ia berhasil pada setiap tahap. Pendekatan yang baik akan membuat anak tidak merasa dipaksa buang air di toilet. Apabila anak merasa tertekan atau tidak nyaman, ia mungkin akan menahan buang airnya. Demikian juga halnya apabila sikap Anda menunjukkan kecemasan dan harapan bahwa ia harus segera mampu mandiri.

Pada waktu-waktu tertentu, sesekali anak masih akan buang air di celana. Saat sedang sakit atau mengalami perubahan besar dalam hidup sehari-hari, kemajuan yang dicapai mungkin akan berkurang. Hal ini wajar terjadi, dan sikap terbaik adalah tetap mendukung seperti biasa. Hindari reaksi berlebihan atau tekanan pada kemunduran kemampuannya. Apabila keadaan sudah kembali normal, anak akan segera kembali pada kemampuan yang sudah dicapainya.

Setelah buang air besar, jangan lupa melihat apakah kotoran yang dikeluarkan anak padat dan keras. Hal ini menyebabkan rasa sakit saat buang air dan menghambat proses belajar, karena anak akan menahan buang airnya. Ketika hal ini terjadi, perbanyak serat dalam asupan makanan anak serta minum air dalam jumlah yang cukup. Yakinkan anak bahwa buang air besar tidak menyakitkan lagi apabila kotoran yang dikeluarkan melunak.

 

Beberapa hal lain yang mungkin perlu diingat ketika anak sedang dalam proses toilet training adalah:

  1. Biasakan mengenali isyarat ketika anak akan buang air, seperti ekspresi wajah, perilaku, atau posisi tertentu. Tanyakan apakah ia ingin ke toilet saat isyarat itu timbul.
  2. Selalu berikan contoh, baik tentang cara duduk di toilet maupun dalam kebiasaan makan banyak serat.
  3. Pada awal toilet training, anak laki-laki perlu belajar buang air kecil dalam posisi duduk dulu. Belajar buang air kecil langsung dalam posisi berdiri mungkin dapat menyulitkan proses belajar duduk di toilet untuk buang air besar. Anak laki-laki juga umumnya butuh waktu lebih lama dalam proses belajar ini.
  4. Latihan buang air dapat dimulai satu kali sehari pada waktu yang sama, seperti setelah makan atau saat mandi, ketika anak tidak berpakaian.
  5. Ketika anak sudah mulai belajar mengendalikan proses buang airnya, Anda dapat mengurangi pemakaian diaper secara bertahap. Mulai kenakan celana kain biasa pada siang hari ketika anak bangun dan bermain. Kendali buang air saat tidur mungkin baru akan timbul setahun setelah anak mampu menahan buang air di siang hari.
  6. Ajari anak untuk buang air di malam hari sebelum tidur. Apabila ia masih sering buang air kecil di malam hari, mungkin Anda perlu mengajaknya buang air di tengah malam satu kali lagi.
  7. Berkonsultasilah dengan dokter anak apabila anak Anda belum dapat mengendalikan buang air saat ia berusia 7 tahun.

 

 

Penulis : dr. Catharine M. Sambo, Sp.A

Ikatan Dokter Anak Indonesia         

 

Catatan : Artikel pernah dimuat di harian Kompas, kolom Klasika, tanggal 2 Desember 2012

 

 

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.