Gumoh pada Bayi


IMG-20150423-WA0002

Gumoh adalah aliran balik isi lambung ke dalam kerongkongan dan dikeluarkan melalui mulut yang berlangsung secara involunter. Keadaan ini sering ditemukan pada bayi dan merupakan salah satu keluhan yang sering disampaikan oleh orangtua pada saat kunjungan ke dokter.

Dilaporkan, 80% bayi sehat berumur 1 bulan mengalami regurgitasi paling sedikit 1 kali setiap harinya, meningkat menjadi 40-50% pada umur 6 bulan, dan selanjutnya menurun secara bertahap hingga mencapai 3-5% pada umur 12 bulan. Lebih kurang 25% orangtua dari bayi tersebut menganggap regurgitasi sebagai suatu masalah. Isi dari cairan lambung yang masuk ke dalam kerongkongan dapat berupa air liur, makanan-minuman, asam lambung, pankreas, atau empedu.

Gumoh yang berlanjut dengan volume banyak dan frekuensi sering dapat menyebabkan paparan asam lambung pada dinding keronkongan meningkat pula, sehingga merusak dinding kerongkongan (esofagitis). Pada keadaan normal, asam yang ada di dalam kerongkongan akan dibersihkan oleh gerakan peristaktik dari kerongkongan dan produksi air liur yang ditelan setiap saat oleh anak.

Gejala klinis

Gumoh umumnya jarang ditemukan di atas umur 1 tahun. Komplikasi akibat paparan asam lambung yang terlalu banyak dan lama perlu dipertimbangkan bila ditemukan pucat (anemia), darah pada muntahan atau tinja, menolak makan, kenaikan berat badan yang adekuat, rewel berlebihan.

Gejala nyeri umumnya timbul akibat paparan asam lambung berlebihan atau berlangsung lama pda dinding kerongkongan. Bayi akan menjadi rewel, cengeng, dan kadang-kadang sampai menjerit. Bayi juga sering memperlihatkan posisi mengkakukan punggungnya saat atau setelah makan (back arching). Pada esofagitis berat mungkin dijumpai darah pada isi muntahan, nyeri atau gangguan menelan, dan darah pada tinjanya. Gangguan yang yang berlangsung terus menerus dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Gagal tumbuh terjadi bila jumlah masukan nutrisi lebih sedikit dibanding jumlah yang keluar.

Tata laksana

Pada bayi yang tampak sehat, tumbuh dengan baik, dan tanpa gejala komplikasi, tidak perlu dilakukan pemeriksaan penunjang diagnostik. Bayi dengan problem minum (seperti; menolak minum, regurgitasi setiap minum), sulit tidur, atau menangis yang berlebihan sering menimbulkan kecemasan pada orangtuanya. Orangtua harus memamhami tentang kondisi yang ada, karena dengan pemahaman yang tepat diharapkan dapat mengurangi kecemasan orang tua. Kecemasan orang tua tidak akan hilang selama gejala klnis pada bayinya tidak berkurang.

ASI eksklusif tetap merupakan pilihan utama pada bayi dengan regurgitasi. Beberapa kajian memperlihatkan bayi dengan ASI secara eksklusif mengalami regurgitasi lebih sedikit dibanding mereka yang mendapat susu formula.

Bila gumoh sangat berlebihan sehingga menimbulkan kecemasan orangtua yang berlebihan pula, maka bayi yang oleh karena sesuatu hal tidak mendapat ASI eksklusif atau sudah mendapat susu formula dapat diberikan thickening formula. Thickened formula ada yang beredar dipasaran tetapi dapat pula dibuat melalui modifikasi dengan cara mencampurkan 5 gram tepung beras (1 sendok takar) ke dalam 100 ml susu formula. Thickened formula telah dibuktikan dapat mengurangi gumoh dan memperpanjang lama tidur. Thickened milk tidak diberikan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif.

Posisi tidur terlentang dengan sudut 45-60 derajat dengan alas tempat tidur dianjurkan pada bayi dengan gumoh berlebihan. Pada bayi dalam posisi miring, harus diperhatikan posisi lengannya agar bayi tidak menyebabkan posisi tengkurap. Hindarkan penggunaan alas tidur yang terlalu empuk.

Obat mungkin diperlukan pada sebagian kecil bayi, tetapi harus di bawah pengawasan ketat dokter. Obat yang diberikan harus rasional dan bertujuan agar kualitas hidup bayi tidak terganggu. Orangtua harus kritis terhadap obat yang diberikan kepada anaknya. Pemberian obat penekan asam lambung yang sudah lama tetapi tidak memperlihatkan perbaikan klinis nyata, perlu dilakukan evaluasi diagnosis.

Kesimpulan

Gumoh merupakan suatu keadaan fisiologis yang sering ditemukan pada bayi, namun dapat berkembang menjadi patologis sehingga menimbulkan masalah bagi bayi. Tata laksana gumoh perlu dipahami secara tepat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin untuk mencegah komplikasi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Badriul Hegar

Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Ikatan Dokter Anak Indonesia

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.