1-2-3 Menuju ASI Eksklusif

Persiapan menyambut buah hati tentu penting bagi semua orangtua. Sembilan bulan lamanya sang bayi dibesarkan dalam rahim ibu dan pastinya semua yang terbaik akan disiapkan, termasuk nutrisi. Berbagai pendapat yang datang dari keluarga dan lingkungan kadangkala justru menimbulkan kebingungan atau keraguan. Berikut kami perkenalkan 3 langkah sederhana menuju kesuksesan pemberian ASI (air susu ibu) eksklusif, sesuai dengan rekomendasi berbagai organisasi kesehatan di dunia.

 

1. Yakinlah bahwa ASI adalah yang terbaik bagi bayi, ibu, dan keluarga.

Sebagaimana bayi tumbuh dan berkembang di dalam rahim, ASIpun telah disiapkan oleh Sang Pencipta sesuai dengan usia kehamilan ibu. ASI mengandung bahan-bahan yang sangat mudah dicerna dan diserap oleh bayi, bahkan bayi prematur sekalipun. Zat-zat yang terkandung dalam ASI sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan, terutama dalam masa emas 2 tahun pertama kehidupan seorang anak. Adanya antibodi (zat kekebalan tubuh) juga tidak dapat ditemukan pada makanan manapun selain ASI, sehingga bayi yang mendapatkan ASI eksklusif terbukti lebih kebal terhadap penyakit menular.

Banyak keuntungan juga didapatkan bagi ibu yang menyusui seperti adanya efek KB alami (dengan syarat-syarat tertentu; konsultasikan pada dokter ahli kebidanan), kembalinya rahim ke ukuran semula dengan lebih cepat, serta kekebalan tubuh yang meningkat karena produksi antibodi yang bertambah. Proses menyusui juga mempererat hubungan batin antara ibu dan anak yang tentu menjadi dambaan setiap orangtua.

Bagi keluarga, pemberian ASI ekslusif tentu lebih ekonomis karena tidak ada biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh nutrisi terbaik bagi bayi. Ditambah lagi, proses menyusui tidak membutuhkan persiapan alat-alat khusus sehingga lebih efisien dan juga mengurangi risiko infeksi akibat penyiapan susu yang kurang higienis.

 

2. Ketahui teknik dasar menyusui

Bila keyakinan terhadap ASI sudah terbentuk, maka langkah awal menyusui akan menjadi lebih mudah dan ringan. Selanjutnya, ibu dapat mempelajari beberapa hal yang dapat membantu supaya menyusui berjalan lancar.

Perhatikan keadaan ibu, bayi, dan kesehatan payudara

Kondisi ibu yang sakit, lelah, atau kurang percaya diri dapat mengganggu pemberian ASI eksklusif. Pastikan ibu dalam keadaan sehat dan berikan dukungan keluarga sepenuhnya pada ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Payudara yang sehat dan terasa nyaman biasanya akan meningkatkan kepercayaan diri ibu sehingga produksi ASI lebih lancar. Rasa ragu dapat timbul bila ibu merasa payudaranya bermasalah, misalnya puting yang tidak menonjol atau payudara terlalu kecil. Untuk menyingkirkan keraguan, sebaiknya ibu dan keluarga mengetahui proses produksi dan pengeluaran ASI.

ASI diproduksi di kelenjar payudara dan mengalir keluar payudara akibat pengaruh hormon-hormon menyusui, yaitu prolaktin dan oksitosin (lihat Gambar 1). Kedua hormon ini diproduksi di sebuah organ di otak yang disebut hipofisis. Hormon prolaktin bertanggung jawab atas produksi ASI, sedangkan hormon oksitosin menyebabkan pengeluaran ASI dari tempat penyimpanannya di dalam payudara ibu. Pengosongan payudara dengan cara menyusui bayi sesering mungkin akan memacu produksi hormon prolaktin, sehingga produksi ASI pun akan bertambah. Kedekatan fisik dengan bayi, mendengar suara tangis bayi, atau mencium bau tubuh bayi, serta hati ibu yang merasa senang dan nyaman, akan memicu pengeluaran hormon oksitosin, yang menyebabkan ASI lancar mengalir dari payudara ibu. Hormon-hormon tersebut dapat terhambat bila ibu merasa tidak yakin, kurang percaya diri, stres, atau kesakitan.

Gambar-ASi-1-Final

Gambar 1. Siklus Menyusui (klik disini untuk memperbesar gambar)

 

Kesehatan bayi juga menentukan kelancaran proses menyusui. Bayi yang sakit, mengantuk, atau tidak nyaman biasanya tidak dapat menyusu dengan baik sehingga mungkin menghambat produksi atau pengeluaran ASI dari payudara.

 

Inisiasi menyusui dini dan rawat gabung

Inisiasi menyusui dini (IMD) dan rawat gabung adalah upaya lain yang dapat dilakukan untuk menyukseskan program ASI eksklusif. Ibu dan bayi dapat menjalani IMD bila keduanya dalam keadaan bugar. Lakukan kontak antara kulit ibu dan bayi sesegera mungkin dengan cara meletakkan bayi di dada ibu segera setelah lahir selama minimal 1 jam.

Rawat gabung adalah proses perawatan bayi bersama ibu dalam ruangan yang sama setelah persalinan. Hal ini diupayakan agar ibu dapat menyusui bayi kapanpun bayi mau. Rawat gabung juga akan membantu ibu mencapai kondisi psikologis yang optimal untuk dapat sukses menyusui.

 

Posisi dan perlekatan yang benar

Carilah posisi menyusui yang paling nyaman untuk ibu. Dekap bayi sedekat mungkin dan hadapkan bayi ke payudara ibu dengan posisi badan yang lurus. Hendaknya seluruh badan bayi menghadap ke dada dan perut ibu; bukan hanya wajahnya saja. Telinga bayi akan tampak sejajar dengan bahu dan hidung mendekat ke payudara. Rangsang refleks hisap bayi dengan menyentuh sudut bibirnya. Saat mulut bayi terbuka lebar, masukkan area kehitaman di sekitar puting (areola) sebanyak-banyaknya ke dalam mulut bayi. Perlekatan yang baik akan terjadi bila mulut bayi terbuka lebar dengan bibir atas dan bawah terlipat keluar (Gambar 2). Bayi dikatakan menyusu efektif bila ia menghisap perlahan, pipi membulat, dan sesekali berhenti untuk menelan ASI.

asi

Gambar 2. Perlekatan bayi pada payudara yang benar

 

3. Evaluasi tumbuh kembang bayi dan berikan MPASI mulai usia 6 bulan

Bagaimana jika bayi menangis terus menerus dan ibu khawatir apakah ASI cukup? Ingatlah, bayi menangis tidak hanya karena lapar. Bayi akan menangis bila ia merasa tidak nyaman (kepanasan, kedinginan, kesakitan), kesepian, ingin digendong, dan lain sebagainya. ASI dapat dikatakan cukup apabila bayi buang air kecil 6 kali atau lebih dalam sehari. Periksakan bayi secara berkala ke layanan kesehatan terdekat. Bila kenaikan berat badannya sesuai dengan umur, maka ASI ibu terbukti cukup untuk bayi. Selain pertumbuhan, jangan lupa untuk selalu menilai perkembangan sang buah hati.

ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain, dianjurkan sampai usia bayi 6 bulan. Setelah bayi mencapai usia 6 bulan, tiba saatnya untuk memberikan makanan pendamping ASI (MPASI). ASI sebaiknya tetap diberikan hingga usia anak minimal 2 tahun, bahkan dapat lebih lama bila bayi dan ibu masih menginginkan.

 

 

Penulis : Amanda Soebadi (Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI - RSCM)

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.


Download ke PDF