Pentingnya Memantau Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (Bagian 2)


“SUDAH bisa apa?” Itulah pertanyaan yang kerap didengar orang tua yang mmeiliki anak balita. Ternyata banyak makna tersirat yang dapat menimbulkan kecemasan dari pertanyaan itu. Terutama bila orang tua tidak yakin apakah tahap perkembangan anaknya sudah sesuai usia.

Selain tubuh yang bertambah tinggi dan besar, perubahan yang dapat dinilai seiring pertambahan usia anak adalah perubahan kemampuannya. Perkembangan didefinisikan sebagai bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih rumit dalam hal kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.

Perkembangan merupakan hasil kematangan dari hubungan berbagai sistem tubuh. Untuk dapat berbicara, misalnya, dibutuhkan kematangan hubungan antara sistem saraf pusat dengan pita suara, otot- otot daerah mulut dan lidah, serta kemampuan untuk memproses kata –kata dan memahaminya.  Perkembangan dimulai dari yang paling sederhana hingga makin kompleks. Anak awalnya akan mengoceh tanpa arti, kemudian mulai mengucap satu kata, serta akhirnya mulai memahami kata –kata lain dan bisa berbicara satu kalimat penuh.

Ada beberapa tahapan perkembangan yang biasanya mudah diingat orang tua. Contohnya, untuk gerak kasar adalah kemampuan bayi tengkurap, duduk, berdiri, kemudian berjalan. Untuk gerak halus adalah kemampuan mata bayi mengikuti gerak benda, kemampuan memegang dan menggenggam, menjimpit hingga kemampuan menulis dan menggambar.

Kemampuan bicara dan bahasa daoat dilihat dari jumlah suku kata yang sudah diketahui anak. Secara kasar, pada usia 9-12 bulan, seorang anak bisa menyebut 2-3 suku kata berulang tanpa arti. Pada usia dua tahun telah mampu merangkai kalimat yang terdiri atas dua kata. Kemudian, kemampuan sosialiasi, dan kemandirian seorang anak dapat dilihat dari apakah ia mengenali anggota keluarganya, takut atau menangis bila melihat orang yang tidak dikenal, hingga mulai belajar untuk makan dan minum sedikit.

Sama seperti pertumbuhan, perkembangan juga penting untuk dipantau. Idealnya setiap anak harus mendapatkan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan dari tenaga medis terlatih secara berkala, untuk mencegah adanya gangguan tumbuh kembang lanjut yang sulit ditangani. Semakin terlambat gangguan dideteksi, semakin sulit penanganannya. Namun, rasio jumlah tenaga medis dan anak di Indonesia yang tidak seimbang menyebabkan kegiatan pemantauan tumbuh kembang belum optimal.

Tersedia kuesioner praskrining perkembangan (KPSP) yang mudah dipahami orangtua dan dapat digunakan untuk memantau perkembangan anak. KPSP adalah instrument pemeriksaan perkembangan anak yang disusun Kementerian Kesehatan RI.Kuesioner ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak, sesuai kelompok usianya.

Sekarang KPSP dapat diakses dengan mudah melalui ponsel dengan aplikasi Program IDAI untuk Membangun Anak Indonesia (PRIMA) untuk Orangtua. PRIMA untuk Orangtua adalah aplikasi digital resmi  pertama berbasis smartphone karya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ini dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan, perkembangan, disertai jadwal imunisasi dan berbagai tips penting mengasuh anak.

Dengan aplikasi ini, orangtua dapat melakukan pemantauan perkembangan anaknya secara mandiri. Bila perkembangan meragukan atau ada penyimpangan, segera konsultasi ke dokter. Kini, orangtua dapat dengan yakin menjawab pertanyaan,”Sudah bisa apa?”

Baca juga Pentingnya Pemantauan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (Bagian 1)

Penulis : Ireska T Afifa, Catharine M.Sambo,Bernie E.Medise

Ikatan Dokter Anak Indonesia 

Artikel ini pernah dimuat di Kolom Apa Kabar Dokter,KOMPAS, 7 Agustus 2016

 

 


Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.