Diabetes pada Anak: Mengenali Gejala Awal untuk Mencegah Kondisi Gawat Darurat

 

Diabetes masih sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Padahal, anak-anak juga dapat mengalaminya. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus diabetes pada anak terus meningkat, baik di dunia maupun di Indonesia. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan mengancam nyawa. Pada Hari Diabetes Nasional 2026, penting bagi masyarakat untuk semakin memahami bahwa diabetes pada anak adalah kondisi nyata yang harus dikenali sejak dini.

Secara umum, terdapat dua jenis diabetes yang paling sering ditemukan pada anak, yaitu diabetes melitus (DM) tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 terjadi ketika tubuh anak tidak lagi mampu memproduksi insulin karena proses autoimun, sehingga anak membutuhkan suntikan insulin setiap hari. Sementara itu, DM tipe 2 terjadi ketika tubuh masih menghasilkan insulin, tetapi kerjanya tidak efektif. Dahulu kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dewasa, namun kini semakin banyak dijumpai pada anak dan remaja.¹,²

Secara global, diperkirakan sekitar 1,8 juta anak dan remaja di bawah usia 20 tahun hidup dengan DM tipe 1, dan jumlah ini terus meningkat setiap tahun.³ Di Indonesia, jumlah anak dengan diabetes yang terlapor juga terus bertambah. Data registry nasional menunjukkan jumlah anak dengan DM tipe 1 di Indonesia terus meningkat tajam dalam dekade terakhir.Di sisi lain, DM tipe 2 pada usia muda juga makin sering ditemukan; di beberapa negara, sekitar 1 dari 5 kasus baru diabetes pada anak kini merupakan DM tipe 2.² Selain itu, kasus DM tipe 2 pada anak mulai semakin sering dilaporkan di berbagai pusat layanan kesehatan di Indonesia, seiring meningkatnya obesitas pada anak dan remaja.

Gejala diabetes pada anak sering kali muncul perlahan dan dapat menyerupai keluhan sehari-hari yang tampak ringan. Karena itu, kewaspadaan keluarga menjadi sangat penting. Gejala diabetes pada anak sering kali muncul perlahan dan dapat menyerupai keluhan sehari-hari yang tampak ringan. Karena itu, kewaspadaan keluarga menjadi sangat penting. Anak yang lebih sering haus, lebih sering buang air kecil atau kembali mengompol, cepat lapar, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, atau mengeluh penglihatan kabur perlu segera diperiksakan ke dokter.

Salah satu kondisi yang paling sering menyebabkan anak dengan diabetes datang dalam keadaan berat adalah ketoasidosis diabetik (KAD). Kondisi Ini terjadi ketika tubuh kekurangan insulin dalam jumlah banyak sehingga tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi. Sebagai gantinya, tubuh mulai membakar lemak dan menghasilkan zat asam yang disebut keton. Penumpukan keton dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan gangguan serius pada tubuh dan berkembang cepat menjadi keadaan gawat darurat. KAD merupakan salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas pada anak dengan diabetes yang belum terdiagnosis.¹

Tanda bahaya KAD perlu dikenali sejak dini. Selain gejala klasik diabetes, anak dapat tampak semakin lemas, muntah berulang, mengeluh nyeri perut, bernapas cepat dan dalam, serta memiliki napas berbau seperti buah atau aseton. Pada kondisi yang lebih berat, anak dapat mengalami penurunan kesadaran. Karena gejalanya kadang menyerupai infeksi saluran cerna, tidak sedikit kasus yang terlambat dikenali. Bila gejala tersebut muncul, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.¹

Keterlambatan diagnosis diabetes bukan hanya meningkatkan risiko KAD saat awal terdeteksi, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang. Diagnosis yang ditegakkan lebih awal memungkinkan terapi dimulai sebelum kondisi memburuk, mengurangi kebutuhan perawatan intensif, dan memberi kesempatan keluarga untuk memahami mengenai pengelolaan diabetes secara bertahap. Oleh karena itu, kewaspadaan orang tua, guru, dan tenaga kesehatan lini pertama memegang peranan penting dalam mendeteksi diabetes pada anak.

Di sisi lain, meningkatnya kasus DM tipe 2 pada anak juga menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dimulai sejak dini. Keluarga memegang peran utama dalam membentuk kebiasaan hidup sehat anak. Membangun pola hidup sehat di rumah, membiasakan pola makan sehat, membatasi konsumsi minuman manis dan makanan tinggi gula, mendorong anak aktif bergerak setiap hari merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan jangka panjang. Aktivitas fisik pun tidak harus selalu berupa olahraga berat, bermain di luar rumah, bersepeda, atau berjalan bersama keluarga sudah merupakan kebiasaan yang baik.²

Di era digital saat ini, membatasi screen time juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan anak. Waktu yang terlalu lama di depan gawai sering kali membuat anak kurang bergerak dan tanpa disadari meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Dengan membangun kebiasaan aktif sejak kecil, orang tua turut membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari.²

Bagi anak yang telah didiagnosis diabetes, dukungan keluarga tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengobatan. Dengan pendampingan yang baik, anak dengan diabetes tetap dapat tumbuh, belajar, bermain, dan beraktivitas seperti teman-teman sebayanya.

Pada akhirnya, diabetes pada anak bukanlah kondisi yang boleh dianggap sepele maupun ditunda penanganannya. Di balik gejala yang tampak sederhana, dapat tersembunyi kondisi yang berkembang cepat dan berisiko menyebabkan kegawatdaruratan bila tidak segera dikenali. Mengenali gejala sejak dini, memahami tanda bahaya seperti ketoasidosis diabetik, serta membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga merupakan langkah penting untuk melindungi anak dari komplikasi yang berat. Dengan kewaspadaan, edukasi, dan dukungan yang tepat, anak dengan diabetes tetap dapat tumbuh sehat, aktif, dan menjalani kehidupan yang optimal seperti anak lainnya.


Referensi

1. Wolfsdorf JI, Glaser N, Agus M, Fritsch M, Hanas R, Rewers A, et al. ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2022: Diabetic ketoacidosis and hyperglycemic hyperosmolar state. Pediatr Diabetes. 2022;23(Suppl 27):145-164.

2. Nadeau KJ, Anderson BJ, Berg EG, Chiang JL, Chou H, Copeland KC, et al. Youth-onset type 2 diabetes consensus report: Current status, challenges, and priorities. Diabetes Care. 2016;39(9):1635-1642.

3. Ogle GD, Wang F, Haynes A, Gregory GA, King TW, Deng K, et al. Global type 1 diabetes prevalence, incidence, and mortality estimates 2025: Results from the International Diabetes Federation Atlas, 11th Edition, and the T1D Index Version 3.0. Diabetes Res Clin Pract. 2025;225:112277.

4. Pulungan AB, Fadiana G, Annisa D. Type 1 diabetes mellitus in children: Experience in Indonesia. Clin Pediatr Endocrinol. 2021;30(1):11-18.

5. Pulungan AB, Annisa D, Imada S. Diabetes mellitus in Indonesian children and adolescents: An update on epidemiology and management. Paediatr Indones.



UKK Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.