Infeksi HIV pada Anak (Bagian II)

PEMBERIAN obat antiretroviral (ARV) dapat menurunkan jumlah virus di dalam darah dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga akhirnya anak jarang menderita sakit dan diharapkan dapat tetap tumbuh dan berkembang sesuai anak sebayanya. Pemberian ARV telah terbukti dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan anak terinfeksi HIV. Namun, pemberian ARV ini perku diberikan seumur hidup untuk tetap menjaga virus tidak terdeteksi di dalam darah.

Bagaimana melakukan pencegahan agar anak tidak terinfeksi HIV?Langkah pencegahan dilakukan dengan memutus rantai penularan HIV dari ibu ke anak. Dalam program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak terdapat 4 langkah, yaitu mencegah infeksi HIV pada perempuan usia reproduktif, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu terinfeksi HIV, mencegah penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi yang dikandungnya, serta dukungan, perawatan, dan pengobatan untuk anak yang terinfeksi HIV.

Untuk itu, sangatlah penting untuk melakukan skrining infeksi HIV pada saat ibu sedang hamil. Apabila terdeteksi ibu sudah terinfeksi HIV pada saat kehamilan, ibu dapat segera mendapatkan terapi antiretroviral. Terapi ARV pada ibu hamil akan menurunkan jumlah virus dalam darah sehingga risiko transmisi HIV ke bayi yang dikandungnya juga berkurang.

Penanganan proses kelahiran harus mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang didapatkan dari tindakan kelahiran  melalui operasi seksio sesaria atau kelahiran normal. Proses kelahiran melalui operasi seksio sesaria akan menurunkan risiko transmisi HIV dari ibu ke bayi. Kelahiran normal dianggap cukup aman dan rendah risiko transmisi HIV-nya apabila jumlah virus dalam tubuh ibu tidak terdeteksi.

Pascakelahiran, bayi harus diberikan obat ARV profilaksis selama 6 minggu. Pilihan nutrisi pada bayi juga harus menimbang berbagai hal. Ibu harus mendapatkan informasi mengenai keuntungan dan kerugian konsumsi susu formula dan ASI. Air susu ibu merupakan sumber transmisi HIV sesudah kelahiran. Ibu yang memilih susu formula harus memenuhi syarat AFASS dari WHO, yaitu acceptable, (dapat diterima), feasible (mudah dilakukan), affordable (harga terjangkau), sustainable (berkelanjutan), dan safe (aman). Bagi ibu yang tidak dapat memenuhi syarat AFASS tadi, ibu dapat memberikan ASI eksklusif sampai AFASS terpenuhi. Untuk mengurangi risiko transmisi HIV pada saat memberikan ASI, teknik menyusui haruslah benar, ibu dan bayi juga harus mendapatkan obat antiretroviral. Walaupun demikian, risiko transmisi HIV masih tetap ada. Pemberian nutrisi campur, yaitu ASI dengan susu formula tidak diperbolehkan karena akan meningkatkan risiko transmisi HIV.

Apabila semua langkah pencegahan dilakukan, risiko transmisi HIV dari ibu ke anak yang awalnya dapat mencapat 45 persen  dapat diturunkan menjadi di bawah 2 persen. Untuk itu, langkah awal yang penting adalah skrining HIV pada ibu hamil harus dikerjakan, agar anak- anak harapan masa depan bangsa ini akan bebas HIV.

Lihat juga Infeksi HIV pada Anak (Bagian I)

Penulis : Dina Muktiarti

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Artikel in pernah KLASIKA, KOMPAS, tanggal 6 April 2014

sumber gambar : google images

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.