Aktivitas Fisik Pada Anak

Sudah cukup banyak tulisan yang mengingatkan kita semua tentang pentingnya hidup sehat dengan menyertakan aktivitas fisik yang berguna untuk melatih tubuh dan pikiran. Sejak kecil, anak pun sebaiknya dibiasakan aktif secara fisik. American Heart Association menyarankan agar anak-anak berusia dua tahun atau lebih sebaiknya setiap hari melakukan setidaknya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang yang menyenangkan dan bervariasi sesuai perkembangan menurut usia anak. Apabila anak tidak dapat melakukan aktivitas fisik selama satu jam penuh, aktivitas tersebut dapat dilakukan dalam dua kali periode 30 menit atau empat kali periode 15 menit dalam sehari. Aktivitas fisik tersebut disesuaikan dengan usia, gender, dan tahap perkembangan fisik dan emosional anak.

Aktivitas fisik pada anak membawa banyak manfaat di samping mengurangi risiko obesitas, penyakit pembuluh darah, dan keganasan di kemudian hari. Pertumbuhan tulang dan otot dapat berlangsung dengan baik. Keterampilan gerak, interaksi sosial, dan perkembangan otak juga terasah saat bermain. Anak yang aktif akan belajar dengan lebih efektif, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Anak akan merasa gembira dan percaya diri, serta memiliki pola tidur yang baik. Aktivitas fisik yang dilakukan sejak dini akan membentuk anak menjadi seorang dewasa dengan gaya hidup aktif.

Berikut ini adalah beberapa tips aktivitas fisik anak sesuai kelompok usia:

Ajak bayi tengkurap saat ia sedang terbangun dan ingin bermain. Ketika ia belum dapat merangkak, rangsang dengan menaruh mainan yang menarik di hadapannya. Bermain dalam posisi tengkurap dapat dilakukan setidaknya 30 menit sehari, dalam rentang waktu terbagi dan harus selalu diawasi oleh orang dewasa.
Aktivitas fisik yang sesuai dengan usia bayi sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan yang telah dicapai olehnya. Pada bulan-bulan awal, selalu perhatikan dan topang kepala dan leher ketika diperlukan. Permainan dapat dilakukan sambil merangsang gerak berguling, duduk, merangkak, meraih dan menggenggam benda. Pastikan lingkungan tempat bermain dan sekitarnya aman.
Ketika anak sudah mampu berjalan, sekitar usia satu hingga dua tahun, bentuk aktivitas dapat menjadi lebih bervariasi. Sesekali selipkan aktivitas yang memerlukan banyak tenaga dalam waktu singkat, seperti melompat-lompat, memanjat, berlari. Mainkan musik dan ajak anak bergerak sesuai irama. Belajarlah bermain bola dengan cara lempar tangkap dan menendang. Permainan yang didorong dan ditarik seperti kereta-keretaan meningkatkan pemahaman anak tentang kesadaran ruang.
Anak usia prasekolah memiliki banyak sekali pilihan permainan yang dapat dijadikan aktivitas fisik. Selipkan latihan yang membuat anak bernafas lebih cepat dan dalam. Misalnya, ajak anak berlomba jarak pendek saat bersepeda.
Anak usia sekolah dapat mulai melakukan kegiatan olahraga, di samping permainan lain. Perkenalkan berbagai jenis kegiatan dengan tujuan yang berbeda. Kegiatan aerobik seperti jalan cepat atau lari sebaiknya mengambil sebagian besar porsi satu jam beraktivitas dalam sehari. Tiga kali dalam seminggu, lakukan aktivitas aerobik dengan intensitas cukup berat (vigorous). Perkenalkan aktivitas yang menguatkan otot seperti senam gimnastik atau push up tiga kali seminggu. Aktivitas yang bersifat menguatkan tulang seperti loncat tali dan lari juga dapat dilakukan tiga kali seminggu.
Sebagai panduan intensitas aktivitas, pada skala 0 hingga 10, ketika duduk tenang bernilai 0 dan aktivitas yang paling melelahkan bernilai 10, intensitas sedang (moderate) bernilai 5 atau 6. Intensitas yang cukup berat (vigorous) bernilai 7 atau 8. Pada saat anak melakukan aktivitas yang bersifat vigorous, detak jantung dan pernafasan anak akan jauh meningkat dibanding ketika ia beristirahat.
Cara mudah menilai intensitas kegiatan yang dilakukan oleh anak Anda adalah dengan membandingkannya dengan kemampuan rata-rata anak seusianya. Misalnya apabila anak Anda berjalan kaki ke sekolah setiap pagi, ia mungkin sedang melakukan kegiatan dengan intensitas sedang. Ketika ia lari berkejaran dengan teman di sekolah, intensitas yang dilakukannya cukup berat.

Anda tidak harus menakar jumlah waktu aktivitas anak secara ketat. Kemungkinan besar anak sudah memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk beraktivitas apabila ia dibiarkan bermain secara aktif. Jangan lupa, Anda pun perlu hidup aktif. Selamat bersenang-senang!

  

Penulis : Catharine M. Sambo (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

Catatan : Artikel pernah dimuat di Harian Kompas tgl 14 April 2013, kolom Klasika Apa Kata Dokter.

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.