Antibiotika pada Diare


Diare selalu menjadi perhatian, selain ada sepanjang tahun, juga merupakan 3 penyebab terbesar kesakitan dan kematian anak di Indonsia. Diare pada anak di bawah usia 3 tahun, 70% disebabkan oleh Rotavirus, sisanya baru disebabkan oleh berbagai bakteri maupun parasit. Dengan demikian, sebagian besar diare pada anak tidak memerlukan antibiotik. Bahkan hanya 10-15% diare yang disebabkan oleh bakteri yang memerlukan antibiotik. Penggunaan antibiotik perlu mendapat perhatian agar pemakaiannya rasional. Antibiotik dapat mempengaruhi keseimbangan flora saluran cerna.

Sumber gambar : Medscape

Disentri merupakan salah satu keadaan yang memerlukan antibiotika, karena sebagian besar disentri disebabkan oleh bakteri dan sebagian lagi disebebakan oleh amuba. Antibiotika harus diberikan sesegera mungkin, keterlambatan tidak jarang menyebabkan makin parahnya disentri dan keadaan umum anak.

Disentri umumnya respon dengan antibiotika yang sensitif terhadap shigella. Anak dipantau setelah 2 hari, untuk melihat tanda penyembuhan, antara lain tidak ada demam, frekuensi buang air besar dan volume tinja berkurang dengan jumlah darah minimal atau menghilang, dan meningkatnya selera makan. Apabila tidak ada perbaikan dalam 2 hari, harus dipikirkan keadaan lain; yaitu bakteri sudah resisten terhadap antibiotika yang diberikan atau ada kuman lain penyebab, seperti amuba. Bila kondisi mengkhawatirkan anak harus dirawat. Bila ada fasilitas penunjang laboratorium dapat dilakukan pemeriksaan terhadap amuba pada tinja, dan diberikan antibiotika pilihan kedua.

Disentri seringkali menyebabkan gangguan nutrisi, selain karena penyakitnya, anak seringkali kehilangan selera makan. Oleh karena itu pemberian makanan yang cukup sangat diperlukan. Air susu ibu harus diteruskan pemberiannya, kalau dapat lebih sering dari biasanya karena umumnya bayi menolak makanan lainnya. Anak usia di atas 6 bulan, juga harus mendapat makanan dengan porsi yang besar dari biasanya.

Dr. Badriul Hegar, PhD, SpA(K)

Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI - RSCM
Ikatan Dokter Anak Indonesia
 
 

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.