Normalkah warna urine bayiku?

Urine bayi berwarna tak seperti biasa, normalkah? Seorang bayi seharusnya buang air kecil tidak berwarna. Kuning pekat mungkin tanda kekurangan cairan, tetapi bisa juga pertanda penyakit lain.

Begitu pula merah muda atau bercak merah pada popok misalnya, biasanya menjadi tanda deposit kristal urat atau bisa juga karena pengaruh makanan/obat. Peranan orangtua untuk memperhatikan warna urine bayinya menjadi penting, karena dapat menjadi tanda adanya penyakit tapi dapat pula masih dalam batas normal.

Perubahan warna urine dapat meresahkan bagi pasien dan dokter. Banyak penyebab dari warna urine abnormal merupakan efek obat-obatan dan makanan. Kabar baiknya adalah dalam banyak kasus, diagnosis dapat ditentukan dari pemeriksaan anamnesis atau tanya-jawab dan urinalisis.

Sumber :

Sumber : The Internet Journal of Tropical Medicine 2008, Vol. 6, No.1

Apabila orangtua menjumpai warna urine yang tak lazim, perlu diperhatikan beberapa hal. Misalnya, kapan mulai terjadi? Apakah berlangsung tiba-tiba? Apakah warna urine sama sepanjang hari? Apakah urine berbau tidak sedap? Apakah bayi buang air kecil lebih sedikit dari biasanya? Apakah ada riwayat meminum obat-obatan tertentu? Apakah disertai gejala lain misal bayi mengedan setiap buang air dan disertai demam atau gejala kuning pada kulit dan mata bayi?

Urine merah muda, merah atau cokelat tua dapat disebabkan kelainan darah (seperti anemia hemolitik); jejas pada ginjal atau saluran kemih; makanan seperti buah beri, buah bit, atau obat seperti rifampicin, desferioksamin, fenoftalein; kelainan metabolik seperti porfiria, kelainan ginjal, dan saluran kemih seperti infeksi saluran kemih, tumor, dan tuberkulosis.

Keadaan yang masih dapat dianggap normal dan sering dijumpai orangtua adalah merah muda pada urine oleh karena kristal urat, yang disertai dengan gambaran kristal halus/powder yang dapat digores dari popok.

Urine berwarna putih kental memiliki kemungkinan diagnosis yang luas dan membutuhkan penyelidikan lebih mendalam. Endapan dari mineral dalam urine seperti hiperkalsiuria, fosfaturia, atau hiperoksaluria dapat ditemukan setelah setelah analisis urine. Konsultasi dengan ahli ginjal anak dianjurkan pada keadaan ini karena mungkin diperlukan perubahan asupan pola makan dan pengobatan infeksi saluran kemih.

Infeksi saluran kemih yang berat adalah salah satu kemungkinan penyebab urine berwarna putih, dapat pula merupaka bagian dari infeksi tuberkulosis. Perubahan warna urine menjadi hijau atau kebiruan juga menjadi salah satu tanda adanya infeksi saluran kemih atau pemakaian obat-obatan.

Analisis urine secara makroskopis dan mikroskopis perlu dilakukan untuk membedakan adakah kelainan dalam urine, misalnya keberadaan sel darah merah lebih dari 5 per milliliter urine menunjukkan hematuria.  Adanya hematuria hanya terlihat secara mikroskopis dan tanpa ada gejala perubahan warna urine yang nyata, tetapi disertai riwayat tuli di dalam keluarga atau riwayat gagal ginjal di dalam keluarga, juga perlu diwaspadai sebagai abnormal.

Dengan demikian, warna urine bayi dan anak penting diperhatikan karena dapat menjadi tanda penyakit. Berikut ini, beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman orangtua tentang perubahan warna urine agar segera berkonsultasi ke dokter.

  • Perubahan warna urine yang tidak dapat dijelaskan sebabnya dan tidak kembali menjadi normal seperti biasa.
  • Adanya darah di urine walaupun hanya terlihat sekali.
  • Urine berwarna cokelat tua disertai feses pucat dan warna kuning pada kulit dan mata.
  • Urine merah, merah muda, atau cokelat tua yang tidak disebabkan perubahan makanan atau pemakaian obat-obatan.

 

Penulis : Dr. Oke Rina Ramayani, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

*Artikel ini pernah dimuat di kolom KLASIKA, KOMPAS, pada tanggal 10 April 2016.

Silahkan bagikan artikel ini jika menurut anda bermanfaat bagi oranglain.


Download ke PDF